Minggu, 20 Oktober 2013

CERPEN KONTEMPORER KARYA DANARTO 
KACAPIRING            

             Rumah sakit ini rasanya menebarkan arus kematian. Terasa pada tengkuk dan telapak tangan yang dingin. Lorong-lorong yang lengang mengantarkan kereta jenazah yang bergulir sendirian. Bau obat pengepel lantai menelan aroma nasi bungkus dan air minum kemasan yang kempis. Barangkali di ranjang sebelah seorang pasien sedang bergulat memperebutkan nyawanya dengan Malaikat Izrail.
             Azan subuh terdengar, saya masih malas bangun dari tidur duduk dengan kepala terkulai di ranjang Asri, anak saya yang berumur 12 tahun. Asri telah 3 hari pingsan, belum juga ada tanda-tanda mau siuman. Para dokter tidak tahu kenapa lama sekali Asri pingsan.
            Sebenarnya, anak-anak saya, yang sehat, energik, dan periang, yang mewarisi watak saya yang selalu gembira, mustahil jatuh pingsan sebegitu mudahnya. Dunia memang penuh penderitaan, tetapi lupakanlah itu dan rebutlah kegembiraan hidup untuk selama-lamanya. Itulah yang pokok, yang saya pikir, yang saya ajarkan kepada anak-anak dalam mengarungi hidup sehari-hari. Saya ajak mereka menyanyi, menari, dan berdoa dan kelima anak saya itu – Asri (12), Ajeng (10), Antok (8), Arga (6), dan Ayu (4) – pun menari, menyanyi dan berdoa. Anak-anak yang baik adalah jendela dengan kaca yang jernih. Kami adalah keluarga yang tidak bersedih. Jika mau bersedih pun kami tidak sempat.            
             Kami bertujuh hidup dalam kebahagiaan dalam arti yang sempit maupun yang luas. Selalu bertemu setiap hari, dalam waktu yang sempit maupun yang longgar. Kami berbelanja beramai-ramai ke Hero atau Carrefour. Kami makan di Sizzler atau di Lembur Kuring. Kami sekeluarga yang sibuk sehingga membutuhkan tiga sopir, paling tidak satu untuk anak-anak, satu untuk istri dan satu untuk saya, sepertinya setiap dari kami sudah bisa mandiri.
            Seminggu sekali kami mengitri toko buku selama tiga jam untuk memborong buku dan DVD apa saja yang mendatangkan kesenangan. Kami juga nonton di gedung bioskop dan gedung kesenian, juga di gedung-gedung kebudayaan kedutaan besar. Kami mengisi teka-teki silang dari Harian Kompas, Koran tempo, Media Indonesia, maupun Republika, sambil menikmati pizza atau hamburger dan es teler. Kami juga pura-pura tahu tentang gerakan reformasi yang telah melanda Tanah Air.
            Itulah sebabnya kami merasa digoncang gempa bumi ketika mobil kami ngebut melarikan Asri ke rumah sakit. Menderu dan melakukan zig-zag. Masih dalam keadaan pingsan, Asri saya peluk erat-erat. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan Asri yang menjerit dan jus mentimun yang mestinya ia berikan kepada mamanya jatuh ke lantai dengan bunyi gelas yang pecah berderai. Saya berlari ke arah jeritan Asri dan mendapatkannya terkapar. Saya berteriak memanggil sopir dan membopong Asri ke dalam mobil. Di sisinya, Ajeng dan Antok, adik-adik Asri, gemetar dan menangis memegangi kaki dan tangan kakaknya. Apakah Asri tadi terpeleset atau dia kena serangan jatung? Yang saya heran, ibunya anak-anak tidak memberikan reaksi sedikit pun dan tetap berada di dalam kamarnya. Bahkan sekedar menjenguk pun tidak.
            “Karena kaget, siapa pun bisa pingsan,” kata dokter setelah memeriksa Asri beberapa saat. Kami lega.
             “Sehat,” jawab dokter, “Nantikalau sudah siuman, Asri bisa dibawa pulang.”
             Saya mengucapakan terima kasih kepada dokter yang kemudian berlalu meninggalkan Asri yang tergeletak di ranjang. Saya masih memegangi tangan Asri dan menatap bengong Ajeng dan Antok. Mereka tampak cemas ketika tiba-tiba telepon seluler berdering.
             “Arga dan Ayu nangis memanggil-memanggil Ibu, Pak!” teriak pembantu dari rumah sambil menangis.
            Saya kaget lalu berteriak, “Bilang sama Arga dan Ayu jangan kolokan. Bawa keduanya ke mamanya.”
            “Pintu kamar Ibu digedor-gedor Arga dan Ayu, tetapi enggak ada sahutan, Pak,” kata pembantu.
            “Dobrak pintunya.” 
            “Enggak berani, Pak.”
            “Dobrak!”
            “Enggak berani, Pak.”
            “Suruh Totok mendobrak.”
            “Totok enggak berani, Pak.”
            “Mana Totok, saya mau bicara.”
            “Ya, Pak,” sahut Totok sopir anak-anak, yang agaknya berada di samping pembantu.
            “Tok! Kamu dobrak pintu kamar Ibu.”
            “Mohon maaf, Pak. Saya tidak berani.” 

            Mula-mula Laksmi, mamanya anak-anak, memberi tahu kami bahwa dia membutuhkan kamar sendiri. Saya pikir dia mau menggunakan kamar yang sudah ada. Ternyata dia membangun kamar baru di sebelah perpustakaan. Bagi kami, saya dan anak-anak, hal ini tidak menjadi soal amat. Kami semua sangat mencintainya. Bahkan anak-anak sanggup menunggunya sampai pukul 9 malam untuk bisa makan bareng dengan mamanya.
           Sebagai seorang ibu yang perfeksionis bagi anak-anaknya, dia mengatur seluruh segi kehidupan kami sehari-hari, begitu cermat dan cekatan. Dari jus apel, tomat dan wortel yang wajib kami minum setiap hari, dari hobi sampai jenis permainan dan dari olahraga sampai piknik kami setiap empat bulan sekali, anak-anak dan saya terima beres. Dari sini dia mendapat imbalan yang elok dari langit: anak-anak dan suaminya tumbuh sehat dan mendatangkan kebahagiaan.
            Dengan kamar barunya itu, Laksmi keluar masuk dengan kunci di tangan. Tentang sikapnya ini, saya pernah secara sambil lalu bertanya kepadanya, “Ada rahasia apa, kok pakai dikunci segala.” Dia hanya tersenyum. Ia tetap ramah dan murah senyum sambil menyanyi dan menari, tetapi kami, keluarga dekat dan teman-temannya, tetap tak boleh menjenguk kamarnya. Pernah Ayu yang berumur 4 tahun, bungsu kami, menangis sejadi-jadinya karena mau ikut, tetapi tetap tak diizinkan masuk. Laksmi tak peduli Ayu menangis seharian di depan pintu kamarnya. Dari peristiwa ini saya mulai merasakan Laksmi ingin mengucilkan diri.
            Laksmi, yang kutu buku dan mengenal dengan baik seluruh restoran di Jakarta, jauh lebih keras bekerja daripada saya meski saya sering pulang larut malam. Tidak pernah mengeluh. Selalu tersenyum terlebih dulu, ia bahkan lebih cepat tersenyum ketimbang para tetangganya yang sudah terkenal paling ramah. Kesukaannya memasak dan membagikannya kepada satu dua tetangganya meski hanya beberapa potong lumpia, dicatat sebagai sifat keramahtamahannya. Ketika membangun kamar pribadinya itu usianya tiga puluh tahun dan sedang ayu-ayunya.
            Di kamar Asri sekarang berkumpul separuh keluarga. Air mata saya terus berlelehan. Ajeng dan Antok menangis sambil memeluk kaki Asri yang terkulai seperti mati. Beberapa dokter hilir-mudik memeriksa Asri lagi. Mereka berdiskusi secara bisik-bisik dan tidak memberi keterangan apa-apa kepada saya. Karena tak tahan menunggu saya bertanya kepada dokter pertama yang memeriksa Asri.tetapi dokter itu memberi isyarat supaya saya bersabar.
            Seorang dokter lain menyarankan supaya saya memeriksa kamar-kamar di rumah. Lalu saya menelepon Eyang Putri Niniek, neneknya anak-anak, ibu Laksmi, yang sering meluangkan waktu bermain dengan cucu-cucunya.
           “Sebelum ke rumah sakit, Ibu mampir dan mohon periksa seluruh kamar dan pojok rumah,” desak saya.
           “Istrimu ke mana?” tanya Eyang Niniek.
           “Itulah...”
           “Itulah apa?”
           “Tidak tahu ke mana.”
           “Kamu bertengkar dengannya?”
           “Tidak.”
           “Ayolah, kamu bertengkar.”
           “Sungguh tidak, Bu.”
           Akhirnya Ajeng dan Antok tertidur di tepi-tepi ranjang Asri. Saya merenung tentang hal-hal kecil yang mungkin sekali terlewatkan dalam urusan rumah tangga. Beberapa orang keluarga dan teman sekelas Asri di SLTP berdatangan menjenguk. Kami mengobrol di kamar keluarga di sebelah kamar perawatan Asri. Teman-temannya menciumi kening dan pipi Asri yang pingsan pulas. Mereka menanyakan mamanya anak-anak. Saya jawab Laksmi sedang bepergian keluar kota yang tak bisa dihubungi.
           Telepon genggan berciluit. Rupanya dari Eyang Niniek yang lalu nerocos.
           “Laksmi bilang belum bisa menjenguk ke rumah sakit. Dia tak mau membuka pintu kamarnya.”
           “Cobalah Ibu minta dia menelepon saya.”
           “Sudah saya suruh, tetapi dia tidak mau.”
           “Dia omong apa saja?”
           “Dia tak omong apa-apa.”
           “Ibu merahasiakan omongan dia, ya?”
           “Buat apa?”
           “Jadi Ibu Cuma mendengar suaranya dari dalam kamarnya?”
           “Ya.”
           “Aneh.”
           “Apa?”
           “Aneh, Laksmi tidak mau ketemu Ibu.”
           “Apa kamu memarahinya?”
           “Tidak pernah.”
           “Ada apa sebenarnya?”
           “Saya tidak tahu.”
           “Kamu suaminya kok enggak tahu.”
           “Benar, Bu.”
           Seorang dokter masuk memeriksa Asri. Tiba-tiba Asri bangun berteriak, “Mama!” lalu dia terkulai kembali, diam, pingsan lagi.
           Melihat gejala itu kemudian beberapa dokter dan juru rawat berdatangan. Asri lalu diperiksa oleh tiga orang dokter. Lalu para dokter itu memberi tahu bahwa tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan.
           Akhirnya Asri siuman dalam keadaan sehat-walafiat. Seorang kiai dan beberapa orang jamaahnya yang mengaji sepanjang malam di sisi tempat tidur Asri berhasil membangunkannya. Subuh itu Asri terduduk kaget dan berteriak-teriak memanggil ibunya, “Mama! Mama!” lalu turun dari tempat tidur menghambur ke pelukan saya sambil menangis sejadi-jadinya.
           Lalu kami meninggalkan rumah sakit beramai-ramai seperti mau menyambut pesta. Kami tidak pulang ke rumah. Kami pulang ke rumah Eyang Niniek. Kami menyelenggarakan selamatan untuk Asri. Mirip reuni keluarga, saudara-saudara dekat dan jauh berdatangan. Juga teman-teman Asri di sekolah. Selamatan berlangsung dalam doa yang dipimpin oleh kiai dari kelompok pengajian kami. Malam yang khusyuk. Malam yang berbeda. Malam yang menjadikan kami memperoleh keyakinan kembali. Sampan yang menjauh ke tengah danau telah kembali merapat ke tepi. Angin malam yang berembus pelan mengusir malam yang panas dan menyuruh dapur menghidangkan makanan yang lezat-lezat.
           Tak terduga, anak-anak senang tinggal di rumah neneknya. Begitu pula Eyang Niniek yang setelah ditinggal lima tahun oleh Eyang Sadewa, suaminya, merasa mendapatkan hidupnya kembali dengan kehadiran cucu-cucunya di rumah. Tentu ada yang hilang. Laksmi tidak kelihatan. Dia tidak ditemui di rumah atau di rumah teman-temannya. Saudara-saudara kami di Bandung, Yogya, Solo dan Surabaya, juga tidak disinggahi Laksmi selama dua tiga bulan belakangan ini. Saya katakan kepada anak-anak kenapa kami belum dapat menemui mamanya: Laksmi sedang sibuk menggarap pekerjaan yang harus selesai tepat waktu karena ditunggu pemesannya. Untung Ayu, si bungsu, tidak meronta-ronta.
           Pada suatu malam yang cerah penuh bintang dan Asri sudah ceria, di taman belakang rumah Eyang, di tepi kolam ikan koi, diam-diam saya desak dia bercerita tentang peristiwa sore itu ketika terjatuh sewaktu mengantarkan jus mentimun untuk mamanya. Asri mengingat sejenak lalu bercerita.
           “Ada kereta api lewat, kencang sekali, berderak-derak, angin menderu, Mama dari atas kereta menyambar gelas jus itu, meminumnya lalu melemparkan gelasnya. Asri terhempas terguling ke samping, lalu mendengar teriakan Mama yang semakin menjauh, ‘Mama cuma beli tiket sekali jalan.’”
           Seperti tersadarkan, mendengar cerita Asri ini saya tersentak dari duduk, menggayut tangan Asri dan mengajaknya buru-buru menengok rumah.
           Ajeng, Antok, Arga, Ayu dan Eyang Niniek saya bawa serta. Sopir saya perintahkan ngebut. Saya mendengar suara Laksmi yang menjauh.
           “Mama Cuma beli tiket sekali jalan.”
           Bisakah saya mengejar suara itu. Melayang sobekan kain dari hempasan angin kereta api, menderu menyibak tanaman, geliat rel pada tikungan, dengan peluitnya yang panjang, karena itu lenyap ditelan cakrawala.
           Sesampai di rumah, para pembantu kaget menyambut kami. Saya dobrak pintu kamar Laksmi dengan linggis. Kami beramai-ramai memasukinya. Ternyata kamar itu kosong-melompong. Tak ada sepotong pun perabotan. Hanya karpet yang memenuhi kamar dengan bau harum pewangi kegemarannya. Menyaksikan keadaan itu, anak-anak berteriak sambil menangis.
           “Mama! Mama!”
           Ayu berguling-guling di karpet sambil menjerit-jerit. Kakak-kakaknya menangis memanggil mamanya sambil menyusuri empat dinding kamar kosong itu. Saya tak peduli. Saya minta sopir untuk membongkar plafon, barangkali, begitu pikiran bodoh saya, kami bisa menemukan persembunyian Laksmi.
           Akhirnya anak-anak jatuh tertidur kelelahan. Mereka melingkar di tengah-tengahkamar yang sebenarnya tidak luas itu. Saya terduduk di pojok. Ada yang terputus dalam alur perjalanan rumah tangga kami. Sebuah jalan raya yang tiba-tiba lenyap dirakus hutan. Lalu tercipta jalan setapak, menyanyi Tuhan dengan gelang Saturnus, api tiba-tiba terhunus. Konser yang belum dimainkan oleh dirigen yang menunggu pesinden. Saya menatap tubuh anak-anak yang pulas, mereka seperti gundukan-gundukan pasir di Pantai Carita pada suatu hari yang cerah empat bulan yang lalu. 

           Saya minta sopir ngebut ke bilangan Senayan, di depan kompleks TVRI, untuk membeli bunga kacapiring kesukaan Laksmi. Saya memilih kembang-kembang itu sendiri. Pada pukul delapan sehabis makan malam, saya minta anak-anak menaruh bunga kacapiring itu di dalam vas kesukaan mamanya di tengah-tengah kamar. Lalu kami berkumpul di pojok kamar. Kami persis anak yatim piatu. Anak-anak ayam yang kehilangan induknya.
            Seorang pembantu masuk manaruhkan segelas jus mentimun kesukaan Laksmi di dekat vas bunga itu. Seketika saya terkesiap. Di dapur, pembantu itu saya suruh mengambil kembali jus mentimun itu dan saya membantingnya sampai gelas itu pecah berkeping-keping. Pembantu itu menangis sambil berlari masuk ke kamarnya.
            “Apa maksudmu menaruh jus mentimun itu di dalam kamar Ibu?” bentak saya.
            “Setiap hari jus mentimun dihidangkan di kamar Ibu, Pak,” jawab pembantu.
            “Kamu gila!” bentak saya.
            “Jus itu selalu habis diminum Ibu, Pak.”
            “Kenapa kamu baru cerita sekarang?”
            “Kira Bapak sudah tahu.”
            “Apa kamu pernah lihat Ibu minum jus itu, he?”
            “Ibu tidak ada tapi ada, Pak.”
            Pembantu itu menangis sambil menunduk. Para pembantu lainnya bersembunyi di kamarnya. Saya terduduk di lantai dapur. Barangkali yang gila itu saya. Air mata saya berlelehan. Laksmi tidak ada, tetapi ada. Ini sudah keterlaluan dan sangat jauh menyimpang dari pengalaman perjalanan karier saya. Iman yang begitu tinggi dari orang-orang sederhana seperti para pembantu dan para sopir memberi pelajaran betapa perjalanan hidup itu tidak lurus, bahkan perjalanan hidup orang-orang saleh sekalipun. Setiap perahu menyimpan gelombang. Setiap hasrat menyimpan nafsu, dendam dan tindakan yang tidak masuk akal. 
            “Apa Papa punya salah sama Mama?” tanya Asri pada suatu sore ketika kami minum teh berdua di beranda.
            “Kamu pikir, Papa punya salah sama Mama?”
            “Menurut Papa bagaimana?”
            “Menurut Asri bagaimana?”
            “Mana tahu...”
            “Cobalah berterus terang Asri, apa kata hatimu?”
            “Cobalah Papa mendengar kata hati Papa, bagaimana?”
            “Orang lain lebih tahu. Bagaimana menurut Asri?”
            “Papa malu, ya, berterus terang?”
            “Nah, kamu curiga. Nada bicaramu seolah Papa memang punya salah sama Mama.
            “Nah, Papa yang curiga.”
            “Kamu.”
            “Papa.”'
            “Kamu.”
            “Papa.”
            Apakah saya cukup waras untuk mengalami semua peristiwa yang tak terbayangkan ini? Saya yang ingin hidup secara sederhana, penuh kegembiraan, tidak begitu saja bisa mulus melaksanakannya meski syarat-syarat untuk itu semua terpenuhi. Saya merasa diperlakukan tidak adil. Saya harus mencari sebab-sebabnya.
            Malam-malam selanjutnya kami tidur di kamar semedi Laksmi itu. Di atas karpet, kami berbaring berderet-deret seperti pengungsi. Saya berbahagia karena anak-anak sudah mulai kerasan. Bunga kacapiring itu boleh jadi memberi oksigen kepada kami. Mungkin karena jasa Eyang Niniek yang begitu penuh kasih sayang mengasuh anak-anak. Memang, harus ada orang tua yang setia tinggal di rumah untuk mengayomi rumah tangga. Orang tua yang selalu mondar-mandir antara dapur dan ruang keluarga. Orang tua yang membersihkan udara di dalam rumah.

            Pada suatu malam ketika saya tiba dari kantor, terdengar dari dalam kamar Laksmi anak-anak tertawa dan bersorak-sorai ramai sekali.
            “Mama curang. Mama curang,” teriak anak-anak tertawa penuh canda.
            “Tentu saja Mama selalu menang, habis Mama enggak kelihatan, sih.”
            Saya intip ari pintu, anak-anak tertawa, berteriak, berlarian memutari kamar sambil menggenggam apel dan melemparkannya ke udara.
            Saya terkulai di depan pintu dengan berurai air mata. Ini gila. Saya tak bisa menerima ini semua. Ini keterlaluan. Saya harus merebut kembali kebahagiaan itu. Saya harus merebut kembali Laksmi.
            Ketika malam telah hening, ketika anak-anak sudah berada di dunia lain (barangkali), pelan saya masuk. Setelah salat istikharah, saya berdoa di pojok. Mencoba memusatkan pikiran. Kamar itu temaram, menunggu sesuatu yang baru dari kehidupan kami. Perjanjian baru perlu ditandatangani, dengan keyakinan penuh, dengan kedisiplinan, dengan kesetiaan.
            “Laksmi,” bisik saya. “Maafkan saya. Saya telah mengacaukan segalanya. Saya telah merusak rumah tangga kita. Ketika Asri bertanya, apakah saya punya salah padamu, saya sadar, inilah sumber dari segala yang mengerikan itu. Laksmi, saya minta maaf. Benar, saya bersalah kepadamu. Di depanmu ini, saya mengakui, saya berselingkuh. Berkali-kali. Secara sadar saya melakukannya. Itu kesalahan besar. Suatu dosa besar. Barangkali di kantor kami semua sudah gila. Kami dicengkeram oleh situasi yang sangat sulit untuk kami hindari. Kami terkepung tembok. Beban pekerjaan terlalu berat. Hiburan memang bermacam-macam bentuknya untuk memunggahkan semua beban itu. Saya tak mampu melakukan pilihan. Maafkan saya. Sekarang saya memohon dengan sangat kepadamu, maafkanlah saya. Kembalilah. Saya minta Laksmi kembali dalam keluarga. Kamu tahu, anak-anak sangat membutuhkanmu. Laksmi, mereka tidak mungkin bisa hidup tanpa kamu. Mereka sangat mungkin akan gagal dalam hidup tanpa kamu. Lebih-lebih saya. Dengan ini saya berjanji, juga sumpah, saya tak akan mengulangi perbuatan itu. Kasih kesempatan kepada saya. Laksmi. Kasih kesempatan. Saya paham sekali sekarang, tak ada wanita lain yang bisa saya cintai. Laksmi, engkaulah satu-satunya yang saya cintai sampai akhir zaman. Engkau suci, laksmi sedang saya profan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar