Rabu, 30 Oktober 2013

ANALISIS PERBANDINGAN HEGEMONI DALAM CERPEN “GERIMIS LOGAM” KARYA INDRO TRANGGONO  DAN “RIPIN” KARYA UGORAN PRASAD

Abstrak
Artikel ini membahas mengenai perbandingan cerita pendek (cerpen) “Gerimis Logam” karya Indro Tranggono dan cerpen “RIPIN” karya Ugoran Prasad dengan menggunakan hegemoni. Hegemoni adalah sebagai suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan. Kedua cerpen tersebut menunjukkan isi cerita yang sama tentang kekuasaan atau hegemoni.

Kata Kunci: perbandingan, hegemoni, cerpen  


PENDAHULUAN
Karya satra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Karya satra itu bersifat dinamis berjalan sesuai dengan perkembangan masyarakat karena karya sastra itu hasil ciptaan seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam masyarakat seorang individu menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami. Dari kejadian yang ia alami yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan dasar ide dalam penulisan karya sastra.
Dalam perkembangan dunia sastra, sebagai upaya untuk melihat dan mungkin menentukan gejala-gejala yang timbul di masyarakat, maka dapat ditempuh dengan adanya cabang ilmu sastra perbandingan. Sastra perbandingan sebagai suatu disiplin ilmu sastra yang baru saja berkembang, masih memerlukan perjalanan yang panjang untuk mencapai kedudukan sebagai ilmu yang mantap. Perjalanan panjang itu masih harus ditempuh karena sampai sekarang masih terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli menyikapi keberadaan sastra perbandingan. Keadaan yang demikian ini sebenarnya sekaligus menunjukkan kedinamisan perkembangan sastra perbandingan sebagai sebuah ilmu.
Sastra adalah seni kreatif yang bermediakan tulisan, sedangkan Sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat/bermasyarakat. Hubungan antara keduanya adalah bahwa sastra dianggap sebagai wujud manifestasi dari kehidupan masyarakat. Sastra “tidak hanya” berbicara tentang masyarakat secara umum saja, kadang sastra mengandung muatan-muatan  ideologis yang bermaksud mendukung ataupun menentang kekuasaan yang ada. Eksistensi sastra juga tidak hanya dipandang sebagai lembaga sosial yang relatif otonom, namun mempunyai kemungkinan relatif formatif terhadap masyarakat (Faruk, 2010:130)
Gramsci menyebutnya dengan Hegemoni, Hegemoni menurut Gramsci adalah kepemimpinan  moral dan intelektual (Faruk, 2010:141). Termasuk didalam hegemoni adalah kemampuan mengatur  dan menguasai kelompok–kelompok lawannya. Dalam teori hegemoni yang diungkapkan Gramsci, hegemoni diciptakan dari kekuatan material yang disini adalah ideologi.
Berdasarkan penjabaran diatas, penulis ingin membandingkan dua buah karya sastra dilihat dari segi hegemoni atau kekuasaannya. Dua buah karya sastra tersebut adalah cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono dan “Ripin” Karya Ugoran Prasad.

METODE PENELITIAN
            Dalam penelitian ini karya sastra yang akan dibandingkan yaitu cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono dan “Ripin” Karya Ugoran Prasad. Cerpen karya Indro Tranggono dimuat dalam harian nasional “Kompas” dan juga diposting ke dalam sebuah blog yang memuat cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan dalam harian tersebut, sedangkan karya Ugoran Prasad dimuat dalam blog Belajar dari Cerpen Pilihan.

PENDEKATAN
Persoalan kultural dan formasi ideologis menjadi penting bagi Gramsci karena didalamnya pun berlangsung proses yang rumit. Gagasan dan opini tidak lahir begitu saja melainkan punya pusat informasi, iridasi, penyebaran, dan persuasi. Puncak inilah yang disebut Hegemoni. Secara literal hegemoni berarti “kepemimpinan”. Lebih sering kata itu digunakan oleh para komentator politik untuk menunjuk pengertian dominasi. Akan tetapi, bagi Gramsci, konsep hegemoni berarti sesuatu yang lebih kompleks. Gramsci menggunakan konsep itu untuk meneliti bentuk politik, kultural, dan ideologis tertentu, yang lewatnya, dalam suatu masyarakat yang ada, suatu kelas fundamental  dapat membangun kepemimpinnanya sebagai sesuatu yang berbeda dari bentuk-bentuk dominasi yang bersifat memaksa. (Faruk, 2010: 132)
Hegemoni diciptakan oleh suprastruktur/kekuatan, material/ideologi. Hegemoni disini adalah untuk memperkuat infrastruktur. Suprastruktur berkaitan dengan masalah kultural, sedangkan  infrastruktur berkaitan dengan struktur material. Subjek-subjek yang mengisi struktur senantiasa diciptakan dan direproduksi sehingga subjek-subjek yang terhegemoni semakin terjaga dan terpelihara.
Sebagai  salah  satu  situs  hegemoni,  di  dalam  karya  sastra  terdapat  formasi  ideologi. Formasi  adalah  suatu  susunan  dengan  hubungan  yang  bersifat  bertentangan,  korelatif  dan subordinatif. Formasi ideologi tidak hanya membahas ideologi yang terdapat dalam teks, tetapi juga  membahas  bagaimana  hubungan  antara  ideologi-ideologi  tadi . Sementara ideologi itu sendiri adalah sistem besar yang memberikan orientasi kepada manusia. Karena  merupakan  sistem  besar,  ideologi  mempunyai  pengikut.  Ideologi  bersifat  kolektif  dan berada  di  wilayah  superstruktur  atau  kesadaran  dan  menjelma  dalam  praktik-praktik  sosial setiap  orang,  lembaga  pemerintah,  institusi  pendidikan,  organisasi-organisasi,  dan  lain-lain.
Agar  dapat  mencapai  hegemoni,  ideologi  harus  disebarkan.  Menurut  Gramsci  (Faruk, 2010:74),  penyebaran itu tidak  terjadi dengan  sendirinya, melainkan melalui  lembaga-lembaga sosial  tertentu  yang  menjadi  pusatnya  seperti  bentuk-bentuk  sekolahan  dan  pengajaran  atau berbagai lembaga penerbitan.
Teori Hegemoni Karl Max
Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Ayahnya, seorang pengacara, menafkai keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Ayahnya   adalah dari pendeta Yahudi (rabbi).Tetapi, karena alasan bisnis ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda.Tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, universitas yang sangat di pengaruhi oleh Hegel dan guru - guru muda penganut filsafat Hegel. Gelar doktor Marx didapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian (Rasmian, 2012).
Dalam artikel online Rasmian (2012), teori kekuasaan ala Karl Marx itu identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. Dalam batasan-batasan lain, hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. Negara diperlakukan Marx sebagai institusi  sosial yang mengabdi pada kepentingan sistem ekonomi kapitalistik. Sebagai produk kapitalistik, Negara merupakan alat kelas atas untuk menjamin kedudukannya dan untuk itu dilakukanlah seperlunya penindasan kepada kelas bawah.
Senada dengan hal di atas,  Subono dalam Rasmian (2012) mengemukakan bahw teori kekuasaan  Karl Marx melihat konsep kekuasaan dalam kerangka hubungan yang mutlak antara kelas-kelas yang mendominasi dan yang didominasi dalam masyarakat—antara yang menekan (oppressor) dan yang tertekan (oppressed), antara yang menyisihkan (alienating) dan yang tersisihkan (alienated). Kekuasaan, menurut versi Marxisme adalah kekuasaan yang dibutuhkan oleh kelas sosial (kelas penguasa) untuk mereproduksi model produksinya yang dominan kekuasaan untuk mengeksploitasi kelas yang dikuasai.
Batasan di atas memilah hubungan dua kelas di tengah masyarakat, yakni kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. Dalam teks lain, kekuasaan itu disebut juga sebagai ideologi Karl Marx (1818-1883). Sedangkan menurut Haris Supratno dalam Rasmian (2012) menjelaskan konsep  Karl Marx sebagai berikut:
a)      Memandang negara sebagai alat represif bagi kelompok penguasa,
b)      Kekerasan satu-satunya cara mempertahankan dominasi kekuatan ,
c)      Ekonomi adalah alat pembelaan dan konflik dalam masyarakat.
Teori Hegemoni Gramsci
Menurut Saptono dalam Rasmian  teori hegemoni merupakan sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini dikemukakan oleh Antonio Gramci (1891-1937). Antonio Gramci dapat dipandang sebagai pemikir politik terpenting setelah Marx. Gagasanya yang cemerlang tentang hegemoni, yang banyak dipengeruhi oleh filsafat hukum Hegel, dianggap merupakan landasan paradigma alternatif terhadap teori Marxis tradisional mengenai paradigma base-superstructure (basis-suprastruktur). Teori teorinya muncul sebagai kritik dan alternatif bagi pendekatan dan teori perubahan sosial sebelumnya yang didominasi oleh determinisme kelas dan ekonomi Marxisme tradisional.
Antonio Gramsci lahir di Ales, Italia, 22 Januari 1891,  meninggal 27 April 1937 pada umur 46 tahun adalah filsuf Italia, penulis, dan teori tikus politik. Anggota pendiri dan pernah menjadi pemimpin Partai Komunis Italia, Gramsci sempat menjalani pemenjaraan pada masa berkuasanya rezim Fasis Benito Mussolini. Tulisan-tulisannya menitikberatkan pada analisa budaya dan kepemimpinan politik. Ia dianggap sebagai salah satu pemikir orisinal utama dalam tradisi pemikiran Marxis. Ia juga dikenal sebagai penemu konsep hegemoni budaya sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan negara dalam sebuah masyarakat kapitalisme (Rasmian, 2012).
Menurut pendapat Rasmian (2012), Gramsci dipandang banyak pihak sebagai pemikir Marxis paling penting di abad ke-20, khususnya sebagai pemikir kunci dalam perkembangan Marxisme Barat.Ia menulis lebih dari 30 buku catatan dan 3000 halaman sejarah dan analisa selama di penjara. Tulisan-tulisan ini, yang kemudian dikenal luas sebagai Buku Catatan Penjara (Prison Notebooks), berisi penelusuran Gramsci terhadap sejarah dan nasionalisme Italia, selain pemikiran mengenai teori Marxis, teori kritis dan teori pendidikan yang berkaitan dengan dirinya, seperti:
a)        Hegemoni Budaya sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan negara kapitalis
b)        Pentingnya pendidikan buruh populer untuk mendorong perkembangan intelektual dari kelas pekerja
c)   Pemisahan antara masyarakat politis (polisi, tentara, sistem legal, dsb) yang mendominasi secara langsung dan koersif, dan masyarakat sipil (keluarga, sistem pendidikan, serikat perdagangan, dsb) di mana kepemimpinan dikonstitusionalisasi melalui ideologi.
Pemikiran Gramsci tentang hegemoni didasarkan atas asumsi bahwa supremasi suatu kelompok social menyatakan dirinya dalam dua cara, yaitu sebagai ‘dominasi’ dan sebagai ‘kepemimpinan moral’, intelektual”. Suatu kelompok atau pemerintah  menjadi dominan apabila menjalankan kekuasaan, tetapi bahkan jika ia sudah memegang dominasi itu, ia harus meneruskan kepemimpinannya. Kepemimpinan moral merupakan kepemimpinan  yang dicapai lewat persetujuan yang aktif kelompok-kelompok utama dalam suatu masyarakat.
            Sedangakan menurut Haris Supratno dalam Rasmian (2012) menjelaskan konsep  Hegemoni Gramsci sebagai berikut:
a)        Hegemoni merupakan alat represif
b)        Mengabdi kepada kelompok masyarakat
c)        Kepemimpinan moral
d)       Meminimkan resistensi penanaman ideologi
e)        Meninggalkan kekerasan

f)         Ekomoni sebagai alat mempertahankan hegemoni.

SINOPSIS
Sinopsis Cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono
            Pada suatu sore yang hujan, Jajak menuntut kepada pihak pabrik atau pimpinan pabrik agar pabrik jeans segera ditutup karena banyak warga yang telah meninggal karena sumur dan sawah warga tercemah limbah pabrik tersebut. Akan tetapi, pimpinan pabrik tetap tidak mau menutup pabriknya dikarenakan sudah mendapat izin dari pemerintah.
            Jajak merasa kasihan kepada warga yang meninggal karena limbah pabrik, dia melihat seolah-olah mereka yang meninggal berjalan di balik gumpalan awan dan memegang perut mereka yang meletus serta darahnya yang biru menghitam. Jajak merasakan penderitaan mereka saat memandangi langit-langit kamar rumah sakit.
            Dalam pidato pak lurah, terlihat bagaimana pak lurah menutupi kesalahan pabrik jeans tersebut dan berbicara bahwa warga yang meninggal itu bukan karena limbah pabrik melainkan karena penyakit perut atau disentri. Setelah pemakanan warga yang meninggal selesai, Jajak diculik oleh si Gempal. Maksud si Gempal menculik Jajak adalah meminta jajak untuk menghentikan demonstrasi itu dan Jajak disuap oleh si Gempal dan si Botak, tapi Jajak menolak untuk itu dan akhirnya Jajak dipukul dan dihajar oleh Gempal dan teman-temannya.
Sinopsis Cerpen “Ripin” Karya Ugoran Prasad
            Siang itu ripin sedang bermain kelereng dengan kawan-kawannya. Ketika kawan-kawannya berhamburan ke jalan raya, Ripin susah payah menghitung kelereng yang dia menangkan. Setelah selesai menghitung, cepat-cepat ia masukkan kelereng-kelereng tersebut ke dalam saku celananya dan menyusul kawan-kawannya.
            Sebuah mobil pick up yang sedang berjalan menarik perhatian kawan-kawan Ripin, dan Ripin terkejut melihat sosok orang yang mirip dengan Rhoma Irama. Tiba-tiba seluruh kawanan itu mengejar mobil itu sambil berteriak-teriak. Ripin berlarian agak jauh di belakang, ia berencana mengikuti kemanapun kawan-kawannya berlari tapi pengumuman yang didengarnya dari pengeras suara itu membuatnya berhenti. Ripin mendengar pengumuman pasar malam, tong setan, dan rumah hantu, nanti malam di alun-alun. Ripin berbalik arah dan pulang ke rumah.
            Ripin meminta Mak agar dapat pergi ke pasar malam, karena Ripin ingin melihat tong edan, tetapi Mak tidak menyetujuinya. Ripin merajuk, dan membujuk Mak dengan mengatakan kalau Rhoma Irama akan datang. Rhoma Irama adalah penyanyi yang disukai Mak Ripin. Mak masih tetap tidak mau. Akhirnya Ripin mengeluarkan senjatanya dengan membandingkan kegantengan Rhoma Irama dengan bapaknya Dikin. Ripin tahu kalu Mak senang dengan bapaknya Dikin. Mak memikirkan Bapak, Mak takut.
            Bapak Ripin dulunya adalah jagoan yang paling hebat, sekarang sudah ada jagoan yang lebih hebat dari bapak. Kata orang-orang, jagoannya seperti setan. Bapaknya Dikin salah satu korbannya, mayatnya ditemukan mengambang di kali. Semenjak jagoan berkeliaran, Bapak lebih sering pulang dan lebih sering menghajar Mak. Ripin juga mendapat kekerasan oleh Bapaknya. Ripin dipukul dengan rotan karena terlihat mematung menahan kencing saat belajar mengaji dengan Bapak.
            Mak menyelamatkan Ripin dari siksa Bapak, dan Makpun juga mendapat sabetan rotan dari Bapak. Setelah itu Mak memutuskan untuk meninggalkan Bapak dan mengemasi semua baju dan dimasukkan ke dalam tas besar. Mak menggandeng tangan Ripin dan berjalan dengan langkah cepat, tiba-tiba Mak berhenti ingat kalau Mak tidak membawa uang. Akhirnya Mak menyuruh Ripin menunggu sedangkan Mak kembali ke rumah. Ripin memutuskan menyusul Mak, di depan pintu rumah ia mendapati Bapak menjambak rambut Mak dan menghantamkannya ke dinding.
            Setelah neberapa tahun kemudian, satu kenyataan yang luput dimengertinya adalah bahwa malam itu Mak sudah mati, dan kenyataan lain yang tidak diketahui; beberapa hari setelah kematian Mak, mayat Bapak mengambang di kali, ditembak jagoan seram yang bernama Petrus.

ANALISIS CERPEN
Hegemoni dalam Cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono
Cerpen Gerimis Logam karya Indro Tranggono merupakan cerpen yang mengkritik tentang pemerintah pada saat pemerintahan Soeharto. Dalam cerpen “Gerimis Logam” terdapat hegemoni atau kekuasaan yang terlihat pada bagaimana pemilik pabrik berusaha  mempertahankan kekuasaannya di desa itu, menggunakan perangkat desa sebagai tameng kekuasaannya, mengatasnamakan  nasib ribuan pekerja sebagai ideologi untuk melawan kelompok kontra-hegemoni yang mencoba menentang hegmoni.
            Dalam cerpen Gerimis Logam terdapat formasi ideologi yang membentuk terjadinya sebuah tatanan masyarakat yang hegemonik, dalam cerpen Gerimis Logam ini terdapat ideologi-ideologi seperti kapitalisme, humanisme, sosialisme, vandalisme, anarkisme, militerisme, dan otoritarianisme.
Ideologi kapitalisme  dalam cerpen ini direpresentasikan melalui tokoh laki-laki botak yang merupakan pemilik dari pabrik jeans dan juga bos lelaki bertubuh gempal, ideologi  kapitalisme ini terlihat pada bagaimana dia tetap kukuh mempertahankan eksistensi pabrik jeansnya walaupun sudah dikecam masyarakat desa karena limbahnya yang mematikan. Hal tersebut menggambarkan bagaimana bos pabrik jeans tidak mau rugi, karena dengan menutup pabrik sama saja modal yang digunakan untuk pembangunan dan alat-alat produksi akan sia-sia, sedangkan  Tokoh Pak Lurah sendiri  sepertinya  terkesan melindungi kehegemonian yang dilakukan pemilik pabrik, terlihat pada saat pidato sebelum pemakaman kang marno yang meninggal:
“Selaku daripada lurah, saya harapken daripada sodara-sodara sekalian jangan salah paham. Meninggalnya daripada Bapak Engkos ini bukan karena daripada limbah pabrik itu. Bukan. Tapi, karena e..e… daripada penyakit perut… Ya…ya disentri….
Disitu terlihat bagaimana seorang lurah yang aparat desa, yang seharusnya bisa menjadi figur pemimpin yang tegas, malah terkesan menutup-nutupi atau bahkan melindungi pabrik jeans tersebut,  hal ini nampaknya menyindir perilaku pejabat-pejabat di tanah air kita dewasa ini yang lebih mementingkan  kaum-kaum kapitalis. Memang  Tidak bisa dipungkiri,  kita boleh pura-pura tidak melihat atau mendengar namun kenyataannya seperti sudah menjadi rahasia umum jika “sedikit banyak” kapitalis-kapitalis yang mempunyai “pelindung” pejabat-pejabat. Ideologi kapitalis ini juga dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Perlu daripada sodara-sodara ketahui, soal limbah pabrik itu sudah kami bicaraken guna mencari daripada penyelesaiannya. Kami mengharapken daripada sodara-sodara sedikit sabar. Semoga, dalam lima anem hari nanti sudah ada kabar….”
Pak Lurah dan laki-laki Botak dalam cerpen tersebut termasuk dalam hegemoni Karl Max karena identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. Dalam batasan-batasan lain, hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme.
Hegemoni dalam Cerpen “RIPIN” Karya Ugoran Prasad
Cerpen “RIPIN” ini juga mengkritik pemerintah sama halnya dengan cerpen “Gerimis Logam”. Dalam cerpen tersebut istilah Petrus  merupakan kepanjangan dari Penembakan Mesterius. Istilah ini muncul sekitar tahun 1980-an  yang merujuk pada konsep penembakan yang pelakunya tidak diketahui. Peristiwa ini sempat menghebohkan masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional.
Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus (operasi clurit) adalah suatu operasi rahasia dari Pemerintahan Suharto pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus", penembak misterius.
Petrus merupakan salah satu contoh konsep hegemoni sebagaimana dikemukan oleh Karl Max dan Antoniai Gramsci. Menurut Gramsci, kekuasaan yang langgeng memerlukan sistim kerja berupa tindakan kekerasan yang bersifat memaksa dan bersifat lunak, membujuk (Rasmian, 2012). Dalam cerpen Ripin peristiwa Petrus tergambar dalam  kutipan berikut:
“Itu dulu, waktu Bapak masih jagoan yang paling hebat.Sekarang sudah ada jagoan yang lebih hebat dari Bapak.Kata orang-orang, jagoan ini seperti setan. Tidak ada yang tahu siapa orangnya, dimana rumahnya, seperti apa tampangnya. Bapaknya Dikin salah satu korbannya.Suatu pagi ditemukan mayatnya mengambang di kali, luka tembak dua kali, di dada dan di dahi.Jagoan-jagoan setempat banyak yang sudah duluan mati. Dari namanya, Ripin menduga jagoan ini pastilah orang Kresten”
Berdasarkan kutipan di atas tergambar kekerasan yang dilakukan olehn seseorang kepada tokoh Bapak. Tokoh Bapak dalam kutipan tersebut dapat dimaknai sebagai wakil dari masyarakat. Sedangkan tokoh  jagoan yang digambarkan dalam cerpen tersebut  dapat ditafsirkan sebagai   penembak misterius. Tafsir ini  dapat lebih terlihat pada kutipan berikutnya  bahwa kata jagoan merujuk pada kata petrus.
Diperoleh informasi pula bahwa kekerasan yang dilakukan oleh jagoan dalam kutipan di atas  telah membawa korban  lebih  dari satu. Parakorban biasanya ditembak dan mayatnya diletakan di  sungai.
“Semenjak jagoan setan ini berkeliaran, Bapak sering pulang.Bahkan bisa berhari-hari tidak keluar rumah.Mak dan Ripin jadi tidak bisa lihat tontonan dan Bapak jadi lebih sering menghajar Mak. Semenjak itu pula Bapak memutuskan untuk mengajar Ripin mengaji….”
Berdasarkan dua kutipan di atas dapat ditafsirkan bahwa dalam cerpen Ripin tergambar kekerasan pemerintah  terhadap masyarakatnya, dan ideologi yang dominan adalah ideologi kapitalis. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tokoh petrus dalam kutipan di atas merefleksikan  tokoh tentara dan polisi yang merupakan alat Negara. 

ANALISIS PERBANDINGAN
Identifikasi Titik Mirip
Kesamaan atau kemiripan kedua cerpen yang sudah dianalisis tidak dilihat dari segi struktur, akan tetapi dilihat dari segi kekuasaan atau hegemoni yang dispesifikkan pada ideologi yang digunakan dalam kekuasaan tersebut. Kedua pengarang cerpen tersebut sama-sama menggunakan kekuasaan atau hegemoni dalam menyampaikan. Dari segi cerita pengarang memiliki kesamaan yaitu sama-sama membahas tentang permasalahan di masyarakat pada masa Orde Baru.

Perbandingan Titik Mirip
            Indro Tranggono mencoba menuangkan ide dalam sebuah cerpen “Gerimis Logam” yang mengungkapkan permasalahan yang terjadi di masyarakat pada saat Orde Baru berupa kritikan-kritikan terhadap pemerintah. Dalam cerpen ini pengarang menggambarkan sebuah kejadian yang terlihat jelas kekuasaan yang terjadi di masa itu. Kekuasaan seorang yang tetap kukuh mempertahankan eksistensi pabrik jeansnya walaupun sudah dikecam masyarakat desa karena limbahnya yang mematikan, dan sikap Pak Lurah (pemerintah) yang seolah-olah kekuasaan ditutupi, terkesan melindungi kehegemonian yang dilakukan oleh pemilik pabrik.
            Sama seperti Indro Tranggono, Ugoran Prasad dalam cerpennya “RIPIN” juga menggunakan kritik terhadap kekuasaan pemerintah. Bedanya, jika Indro menggunakan kekuasaan oknum yang ditutupi oleh pemerintan, maka Ugoran menggunakan Petrus (penembak misterius) yang ada di masa Orde Baru untuk mengkritik pemerintah.

Penafsiran Perbandingan
Tahap akhir kegiatan perbandingan adalah penafsiran hasil perbandingan. Pada tahap ini yaitu menjawab mengapa pada kedua cerpen terjadi kemiripan. Penafsiran terhadap hasil bandingan itu harus berdasarkan data-data yang menunjukkan sebab-sebab mengapa terjadi kemiripan. Oleh karena itu, sebelum menafsirkan hasil perbandingan dalam pembahasan ini, perlu diuraikan data dan pertimbangan untuk menentukan kedudukan dari kedua karya tersebut. 1) Bahwa kekuasaan pada masa Orde Baru sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat pada masa itu, banyak masyarakat yang merasa tertindas karena kekuasaan tersebut. 2) Bahwa kondisi masyarakat yang menyangkut pemerintahan pada masa Orde Baru yang sama-sama dijadikan ide cerita untuk menuangkan kritikan mereka terhadap pemerintah.

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut kedua pengarang sama-sama menggunakan kekuasaan atau hegemoni dalam karyanya. Pengarang merefleksikan kekerasan pemerintah Orde Baru untuk kepentingan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA
Faruk, 2010. Pengantar Sosiologi Sastra (edisi revisi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Prasad, Ugoran. 2011. “RIPIN”. (Online) http://belajardaricerpenpilihan.blogspot.com/2011/12/ripin.html (diakses 20 Oktober 2013).

Rasmian, 2012. “Kekerasan  dalam Cerpen “RIPIN”,  Kumpulan Cerpen KOMPAS 2005-2006”. (Online) http://www.rasmianmenulis.com/2012/03/analisis-cerpen-ripin.html (diakses 24 Oktober 2013)

Tranggono, Indro. 2005. “Gerimis Logam”. (Online)  http://cerpenkompas.wordpress.com/2005/03/27/gerimis-logam/#more-231 (diakses 20 Oktober 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar