Rabu, 30 Oktober 2013

ANALISIS PERBANDINGAN HEGEMONI DALAM CERPEN “GERIMIS LOGAM” KARYA INDRO TRANGGONO  DAN “RIPIN” KARYA UGORAN PRASAD

Abstrak
Artikel ini membahas mengenai perbandingan cerita pendek (cerpen) “Gerimis Logam” karya Indro Tranggono dan cerpen “RIPIN” karya Ugoran Prasad dengan menggunakan hegemoni. Hegemoni adalah sebagai suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan. Kedua cerpen tersebut menunjukkan isi cerita yang sama tentang kekuasaan atau hegemoni.

Kata Kunci: perbandingan, hegemoni, cerpen  


PENDAHULUAN
Karya satra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Karya satra itu bersifat dinamis berjalan sesuai dengan perkembangan masyarakat karena karya sastra itu hasil ciptaan seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam masyarakat seorang individu menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami. Dari kejadian yang ia alami yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan dasar ide dalam penulisan karya sastra.
Dalam perkembangan dunia sastra, sebagai upaya untuk melihat dan mungkin menentukan gejala-gejala yang timbul di masyarakat, maka dapat ditempuh dengan adanya cabang ilmu sastra perbandingan. Sastra perbandingan sebagai suatu disiplin ilmu sastra yang baru saja berkembang, masih memerlukan perjalanan yang panjang untuk mencapai kedudukan sebagai ilmu yang mantap. Perjalanan panjang itu masih harus ditempuh karena sampai sekarang masih terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli menyikapi keberadaan sastra perbandingan. Keadaan yang demikian ini sebenarnya sekaligus menunjukkan kedinamisan perkembangan sastra perbandingan sebagai sebuah ilmu.
Sastra adalah seni kreatif yang bermediakan tulisan, sedangkan Sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat/bermasyarakat. Hubungan antara keduanya adalah bahwa sastra dianggap sebagai wujud manifestasi dari kehidupan masyarakat. Sastra “tidak hanya” berbicara tentang masyarakat secara umum saja, kadang sastra mengandung muatan-muatan  ideologis yang bermaksud mendukung ataupun menentang kekuasaan yang ada. Eksistensi sastra juga tidak hanya dipandang sebagai lembaga sosial yang relatif otonom, namun mempunyai kemungkinan relatif formatif terhadap masyarakat (Faruk, 2010:130)
Gramsci menyebutnya dengan Hegemoni, Hegemoni menurut Gramsci adalah kepemimpinan  moral dan intelektual (Faruk, 2010:141). Termasuk didalam hegemoni adalah kemampuan mengatur  dan menguasai kelompok–kelompok lawannya. Dalam teori hegemoni yang diungkapkan Gramsci, hegemoni diciptakan dari kekuatan material yang disini adalah ideologi.
Berdasarkan penjabaran diatas, penulis ingin membandingkan dua buah karya sastra dilihat dari segi hegemoni atau kekuasaannya. Dua buah karya sastra tersebut adalah cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono dan “Ripin” Karya Ugoran Prasad.

METODE PENELITIAN
            Dalam penelitian ini karya sastra yang akan dibandingkan yaitu cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono dan “Ripin” Karya Ugoran Prasad. Cerpen karya Indro Tranggono dimuat dalam harian nasional “Kompas” dan juga diposting ke dalam sebuah blog yang memuat cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan dalam harian tersebut, sedangkan karya Ugoran Prasad dimuat dalam blog Belajar dari Cerpen Pilihan.

PENDEKATAN
Persoalan kultural dan formasi ideologis menjadi penting bagi Gramsci karena didalamnya pun berlangsung proses yang rumit. Gagasan dan opini tidak lahir begitu saja melainkan punya pusat informasi, iridasi, penyebaran, dan persuasi. Puncak inilah yang disebut Hegemoni. Secara literal hegemoni berarti “kepemimpinan”. Lebih sering kata itu digunakan oleh para komentator politik untuk menunjuk pengertian dominasi. Akan tetapi, bagi Gramsci, konsep hegemoni berarti sesuatu yang lebih kompleks. Gramsci menggunakan konsep itu untuk meneliti bentuk politik, kultural, dan ideologis tertentu, yang lewatnya, dalam suatu masyarakat yang ada, suatu kelas fundamental  dapat membangun kepemimpinnanya sebagai sesuatu yang berbeda dari bentuk-bentuk dominasi yang bersifat memaksa. (Faruk, 2010: 132)
Hegemoni diciptakan oleh suprastruktur/kekuatan, material/ideologi. Hegemoni disini adalah untuk memperkuat infrastruktur. Suprastruktur berkaitan dengan masalah kultural, sedangkan  infrastruktur berkaitan dengan struktur material. Subjek-subjek yang mengisi struktur senantiasa diciptakan dan direproduksi sehingga subjek-subjek yang terhegemoni semakin terjaga dan terpelihara.
Sebagai  salah  satu  situs  hegemoni,  di  dalam  karya  sastra  terdapat  formasi  ideologi. Formasi  adalah  suatu  susunan  dengan  hubungan  yang  bersifat  bertentangan,  korelatif  dan subordinatif. Formasi ideologi tidak hanya membahas ideologi yang terdapat dalam teks, tetapi juga  membahas  bagaimana  hubungan  antara  ideologi-ideologi  tadi . Sementara ideologi itu sendiri adalah sistem besar yang memberikan orientasi kepada manusia. Karena  merupakan  sistem  besar,  ideologi  mempunyai  pengikut.  Ideologi  bersifat  kolektif  dan berada  di  wilayah  superstruktur  atau  kesadaran  dan  menjelma  dalam  praktik-praktik  sosial setiap  orang,  lembaga  pemerintah,  institusi  pendidikan,  organisasi-organisasi,  dan  lain-lain.
Agar  dapat  mencapai  hegemoni,  ideologi  harus  disebarkan.  Menurut  Gramsci  (Faruk, 2010:74),  penyebaran itu tidak  terjadi dengan  sendirinya, melainkan melalui  lembaga-lembaga sosial  tertentu  yang  menjadi  pusatnya  seperti  bentuk-bentuk  sekolahan  dan  pengajaran  atau berbagai lembaga penerbitan.
Teori Hegemoni Karl Max
Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Ayahnya, seorang pengacara, menafkai keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Ayahnya   adalah dari pendeta Yahudi (rabbi).Tetapi, karena alasan bisnis ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda.Tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, universitas yang sangat di pengaruhi oleh Hegel dan guru - guru muda penganut filsafat Hegel. Gelar doktor Marx didapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian (Rasmian, 2012).
Dalam artikel online Rasmian (2012), teori kekuasaan ala Karl Marx itu identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. Dalam batasan-batasan lain, hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. Negara diperlakukan Marx sebagai institusi  sosial yang mengabdi pada kepentingan sistem ekonomi kapitalistik. Sebagai produk kapitalistik, Negara merupakan alat kelas atas untuk menjamin kedudukannya dan untuk itu dilakukanlah seperlunya penindasan kepada kelas bawah.
Senada dengan hal di atas,  Subono dalam Rasmian (2012) mengemukakan bahw teori kekuasaan  Karl Marx melihat konsep kekuasaan dalam kerangka hubungan yang mutlak antara kelas-kelas yang mendominasi dan yang didominasi dalam masyarakat—antara yang menekan (oppressor) dan yang tertekan (oppressed), antara yang menyisihkan (alienating) dan yang tersisihkan (alienated). Kekuasaan, menurut versi Marxisme adalah kekuasaan yang dibutuhkan oleh kelas sosial (kelas penguasa) untuk mereproduksi model produksinya yang dominan kekuasaan untuk mengeksploitasi kelas yang dikuasai.
Batasan di atas memilah hubungan dua kelas di tengah masyarakat, yakni kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. Dalam teks lain, kekuasaan itu disebut juga sebagai ideologi Karl Marx (1818-1883). Sedangkan menurut Haris Supratno dalam Rasmian (2012) menjelaskan konsep  Karl Marx sebagai berikut:
a)      Memandang negara sebagai alat represif bagi kelompok penguasa,
b)      Kekerasan satu-satunya cara mempertahankan dominasi kekuatan ,
c)      Ekonomi adalah alat pembelaan dan konflik dalam masyarakat.
Teori Hegemoni Gramsci
Menurut Saptono dalam Rasmian  teori hegemoni merupakan sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini dikemukakan oleh Antonio Gramci (1891-1937). Antonio Gramci dapat dipandang sebagai pemikir politik terpenting setelah Marx. Gagasanya yang cemerlang tentang hegemoni, yang banyak dipengeruhi oleh filsafat hukum Hegel, dianggap merupakan landasan paradigma alternatif terhadap teori Marxis tradisional mengenai paradigma base-superstructure (basis-suprastruktur). Teori teorinya muncul sebagai kritik dan alternatif bagi pendekatan dan teori perubahan sosial sebelumnya yang didominasi oleh determinisme kelas dan ekonomi Marxisme tradisional.
Antonio Gramsci lahir di Ales, Italia, 22 Januari 1891,  meninggal 27 April 1937 pada umur 46 tahun adalah filsuf Italia, penulis, dan teori tikus politik. Anggota pendiri dan pernah menjadi pemimpin Partai Komunis Italia, Gramsci sempat menjalani pemenjaraan pada masa berkuasanya rezim Fasis Benito Mussolini. Tulisan-tulisannya menitikberatkan pada analisa budaya dan kepemimpinan politik. Ia dianggap sebagai salah satu pemikir orisinal utama dalam tradisi pemikiran Marxis. Ia juga dikenal sebagai penemu konsep hegemoni budaya sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan negara dalam sebuah masyarakat kapitalisme (Rasmian, 2012).
Menurut pendapat Rasmian (2012), Gramsci dipandang banyak pihak sebagai pemikir Marxis paling penting di abad ke-20, khususnya sebagai pemikir kunci dalam perkembangan Marxisme Barat.Ia menulis lebih dari 30 buku catatan dan 3000 halaman sejarah dan analisa selama di penjara. Tulisan-tulisan ini, yang kemudian dikenal luas sebagai Buku Catatan Penjara (Prison Notebooks), berisi penelusuran Gramsci terhadap sejarah dan nasionalisme Italia, selain pemikiran mengenai teori Marxis, teori kritis dan teori pendidikan yang berkaitan dengan dirinya, seperti:
a)        Hegemoni Budaya sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan negara kapitalis
b)        Pentingnya pendidikan buruh populer untuk mendorong perkembangan intelektual dari kelas pekerja
c)   Pemisahan antara masyarakat politis (polisi, tentara, sistem legal, dsb) yang mendominasi secara langsung dan koersif, dan masyarakat sipil (keluarga, sistem pendidikan, serikat perdagangan, dsb) di mana kepemimpinan dikonstitusionalisasi melalui ideologi.
Pemikiran Gramsci tentang hegemoni didasarkan atas asumsi bahwa supremasi suatu kelompok social menyatakan dirinya dalam dua cara, yaitu sebagai ‘dominasi’ dan sebagai ‘kepemimpinan moral’, intelektual”. Suatu kelompok atau pemerintah  menjadi dominan apabila menjalankan kekuasaan, tetapi bahkan jika ia sudah memegang dominasi itu, ia harus meneruskan kepemimpinannya. Kepemimpinan moral merupakan kepemimpinan  yang dicapai lewat persetujuan yang aktif kelompok-kelompok utama dalam suatu masyarakat.
            Sedangakan menurut Haris Supratno dalam Rasmian (2012) menjelaskan konsep  Hegemoni Gramsci sebagai berikut:
a)        Hegemoni merupakan alat represif
b)        Mengabdi kepada kelompok masyarakat
c)        Kepemimpinan moral
d)       Meminimkan resistensi penanaman ideologi
e)        Meninggalkan kekerasan

f)         Ekomoni sebagai alat mempertahankan hegemoni.

SINOPSIS
Sinopsis Cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono
            Pada suatu sore yang hujan, Jajak menuntut kepada pihak pabrik atau pimpinan pabrik agar pabrik jeans segera ditutup karena banyak warga yang telah meninggal karena sumur dan sawah warga tercemah limbah pabrik tersebut. Akan tetapi, pimpinan pabrik tetap tidak mau menutup pabriknya dikarenakan sudah mendapat izin dari pemerintah.
            Jajak merasa kasihan kepada warga yang meninggal karena limbah pabrik, dia melihat seolah-olah mereka yang meninggal berjalan di balik gumpalan awan dan memegang perut mereka yang meletus serta darahnya yang biru menghitam. Jajak merasakan penderitaan mereka saat memandangi langit-langit kamar rumah sakit.
            Dalam pidato pak lurah, terlihat bagaimana pak lurah menutupi kesalahan pabrik jeans tersebut dan berbicara bahwa warga yang meninggal itu bukan karena limbah pabrik melainkan karena penyakit perut atau disentri. Setelah pemakanan warga yang meninggal selesai, Jajak diculik oleh si Gempal. Maksud si Gempal menculik Jajak adalah meminta jajak untuk menghentikan demonstrasi itu dan Jajak disuap oleh si Gempal dan si Botak, tapi Jajak menolak untuk itu dan akhirnya Jajak dipukul dan dihajar oleh Gempal dan teman-temannya.
Sinopsis Cerpen “Ripin” Karya Ugoran Prasad
            Siang itu ripin sedang bermain kelereng dengan kawan-kawannya. Ketika kawan-kawannya berhamburan ke jalan raya, Ripin susah payah menghitung kelereng yang dia menangkan. Setelah selesai menghitung, cepat-cepat ia masukkan kelereng-kelereng tersebut ke dalam saku celananya dan menyusul kawan-kawannya.
            Sebuah mobil pick up yang sedang berjalan menarik perhatian kawan-kawan Ripin, dan Ripin terkejut melihat sosok orang yang mirip dengan Rhoma Irama. Tiba-tiba seluruh kawanan itu mengejar mobil itu sambil berteriak-teriak. Ripin berlarian agak jauh di belakang, ia berencana mengikuti kemanapun kawan-kawannya berlari tapi pengumuman yang didengarnya dari pengeras suara itu membuatnya berhenti. Ripin mendengar pengumuman pasar malam, tong setan, dan rumah hantu, nanti malam di alun-alun. Ripin berbalik arah dan pulang ke rumah.
            Ripin meminta Mak agar dapat pergi ke pasar malam, karena Ripin ingin melihat tong edan, tetapi Mak tidak menyetujuinya. Ripin merajuk, dan membujuk Mak dengan mengatakan kalau Rhoma Irama akan datang. Rhoma Irama adalah penyanyi yang disukai Mak Ripin. Mak masih tetap tidak mau. Akhirnya Ripin mengeluarkan senjatanya dengan membandingkan kegantengan Rhoma Irama dengan bapaknya Dikin. Ripin tahu kalu Mak senang dengan bapaknya Dikin. Mak memikirkan Bapak, Mak takut.
            Bapak Ripin dulunya adalah jagoan yang paling hebat, sekarang sudah ada jagoan yang lebih hebat dari bapak. Kata orang-orang, jagoannya seperti setan. Bapaknya Dikin salah satu korbannya, mayatnya ditemukan mengambang di kali. Semenjak jagoan berkeliaran, Bapak lebih sering pulang dan lebih sering menghajar Mak. Ripin juga mendapat kekerasan oleh Bapaknya. Ripin dipukul dengan rotan karena terlihat mematung menahan kencing saat belajar mengaji dengan Bapak.
            Mak menyelamatkan Ripin dari siksa Bapak, dan Makpun juga mendapat sabetan rotan dari Bapak. Setelah itu Mak memutuskan untuk meninggalkan Bapak dan mengemasi semua baju dan dimasukkan ke dalam tas besar. Mak menggandeng tangan Ripin dan berjalan dengan langkah cepat, tiba-tiba Mak berhenti ingat kalau Mak tidak membawa uang. Akhirnya Mak menyuruh Ripin menunggu sedangkan Mak kembali ke rumah. Ripin memutuskan menyusul Mak, di depan pintu rumah ia mendapati Bapak menjambak rambut Mak dan menghantamkannya ke dinding.
            Setelah neberapa tahun kemudian, satu kenyataan yang luput dimengertinya adalah bahwa malam itu Mak sudah mati, dan kenyataan lain yang tidak diketahui; beberapa hari setelah kematian Mak, mayat Bapak mengambang di kali, ditembak jagoan seram yang bernama Petrus.

ANALISIS CERPEN
Hegemoni dalam Cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono
Cerpen Gerimis Logam karya Indro Tranggono merupakan cerpen yang mengkritik tentang pemerintah pada saat pemerintahan Soeharto. Dalam cerpen “Gerimis Logam” terdapat hegemoni atau kekuasaan yang terlihat pada bagaimana pemilik pabrik berusaha  mempertahankan kekuasaannya di desa itu, menggunakan perangkat desa sebagai tameng kekuasaannya, mengatasnamakan  nasib ribuan pekerja sebagai ideologi untuk melawan kelompok kontra-hegemoni yang mencoba menentang hegmoni.
            Dalam cerpen Gerimis Logam terdapat formasi ideologi yang membentuk terjadinya sebuah tatanan masyarakat yang hegemonik, dalam cerpen Gerimis Logam ini terdapat ideologi-ideologi seperti kapitalisme, humanisme, sosialisme, vandalisme, anarkisme, militerisme, dan otoritarianisme.
Ideologi kapitalisme  dalam cerpen ini direpresentasikan melalui tokoh laki-laki botak yang merupakan pemilik dari pabrik jeans dan juga bos lelaki bertubuh gempal, ideologi  kapitalisme ini terlihat pada bagaimana dia tetap kukuh mempertahankan eksistensi pabrik jeansnya walaupun sudah dikecam masyarakat desa karena limbahnya yang mematikan. Hal tersebut menggambarkan bagaimana bos pabrik jeans tidak mau rugi, karena dengan menutup pabrik sama saja modal yang digunakan untuk pembangunan dan alat-alat produksi akan sia-sia, sedangkan  Tokoh Pak Lurah sendiri  sepertinya  terkesan melindungi kehegemonian yang dilakukan pemilik pabrik, terlihat pada saat pidato sebelum pemakaman kang marno yang meninggal:
“Selaku daripada lurah, saya harapken daripada sodara-sodara sekalian jangan salah paham. Meninggalnya daripada Bapak Engkos ini bukan karena daripada limbah pabrik itu. Bukan. Tapi, karena e..e… daripada penyakit perut… Ya…ya disentri….
Disitu terlihat bagaimana seorang lurah yang aparat desa, yang seharusnya bisa menjadi figur pemimpin yang tegas, malah terkesan menutup-nutupi atau bahkan melindungi pabrik jeans tersebut,  hal ini nampaknya menyindir perilaku pejabat-pejabat di tanah air kita dewasa ini yang lebih mementingkan  kaum-kaum kapitalis. Memang  Tidak bisa dipungkiri,  kita boleh pura-pura tidak melihat atau mendengar namun kenyataannya seperti sudah menjadi rahasia umum jika “sedikit banyak” kapitalis-kapitalis yang mempunyai “pelindung” pejabat-pejabat. Ideologi kapitalis ini juga dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Perlu daripada sodara-sodara ketahui, soal limbah pabrik itu sudah kami bicaraken guna mencari daripada penyelesaiannya. Kami mengharapken daripada sodara-sodara sedikit sabar. Semoga, dalam lima anem hari nanti sudah ada kabar….”
Pak Lurah dan laki-laki Botak dalam cerpen tersebut termasuk dalam hegemoni Karl Max karena identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. Dalam batasan-batasan lain, hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme.
Hegemoni dalam Cerpen “RIPIN” Karya Ugoran Prasad
Cerpen “RIPIN” ini juga mengkritik pemerintah sama halnya dengan cerpen “Gerimis Logam”. Dalam cerpen tersebut istilah Petrus  merupakan kepanjangan dari Penembakan Mesterius. Istilah ini muncul sekitar tahun 1980-an  yang merujuk pada konsep penembakan yang pelakunya tidak diketahui. Peristiwa ini sempat menghebohkan masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional.
Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus (operasi clurit) adalah suatu operasi rahasia dari Pemerintahan Suharto pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus", penembak misterius.
Petrus merupakan salah satu contoh konsep hegemoni sebagaimana dikemukan oleh Karl Max dan Antoniai Gramsci. Menurut Gramsci, kekuasaan yang langgeng memerlukan sistim kerja berupa tindakan kekerasan yang bersifat memaksa dan bersifat lunak, membujuk (Rasmian, 2012). Dalam cerpen Ripin peristiwa Petrus tergambar dalam  kutipan berikut:
“Itu dulu, waktu Bapak masih jagoan yang paling hebat.Sekarang sudah ada jagoan yang lebih hebat dari Bapak.Kata orang-orang, jagoan ini seperti setan. Tidak ada yang tahu siapa orangnya, dimana rumahnya, seperti apa tampangnya. Bapaknya Dikin salah satu korbannya.Suatu pagi ditemukan mayatnya mengambang di kali, luka tembak dua kali, di dada dan di dahi.Jagoan-jagoan setempat banyak yang sudah duluan mati. Dari namanya, Ripin menduga jagoan ini pastilah orang Kresten”
Berdasarkan kutipan di atas tergambar kekerasan yang dilakukan olehn seseorang kepada tokoh Bapak. Tokoh Bapak dalam kutipan tersebut dapat dimaknai sebagai wakil dari masyarakat. Sedangkan tokoh  jagoan yang digambarkan dalam cerpen tersebut  dapat ditafsirkan sebagai   penembak misterius. Tafsir ini  dapat lebih terlihat pada kutipan berikutnya  bahwa kata jagoan merujuk pada kata petrus.
Diperoleh informasi pula bahwa kekerasan yang dilakukan oleh jagoan dalam kutipan di atas  telah membawa korban  lebih  dari satu. Parakorban biasanya ditembak dan mayatnya diletakan di  sungai.
“Semenjak jagoan setan ini berkeliaran, Bapak sering pulang.Bahkan bisa berhari-hari tidak keluar rumah.Mak dan Ripin jadi tidak bisa lihat tontonan dan Bapak jadi lebih sering menghajar Mak. Semenjak itu pula Bapak memutuskan untuk mengajar Ripin mengaji….”
Berdasarkan dua kutipan di atas dapat ditafsirkan bahwa dalam cerpen Ripin tergambar kekerasan pemerintah  terhadap masyarakatnya, dan ideologi yang dominan adalah ideologi kapitalis. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tokoh petrus dalam kutipan di atas merefleksikan  tokoh tentara dan polisi yang merupakan alat Negara. 

ANALISIS PERBANDINGAN
Identifikasi Titik Mirip
Kesamaan atau kemiripan kedua cerpen yang sudah dianalisis tidak dilihat dari segi struktur, akan tetapi dilihat dari segi kekuasaan atau hegemoni yang dispesifikkan pada ideologi yang digunakan dalam kekuasaan tersebut. Kedua pengarang cerpen tersebut sama-sama menggunakan kekuasaan atau hegemoni dalam menyampaikan. Dari segi cerita pengarang memiliki kesamaan yaitu sama-sama membahas tentang permasalahan di masyarakat pada masa Orde Baru.

Perbandingan Titik Mirip
            Indro Tranggono mencoba menuangkan ide dalam sebuah cerpen “Gerimis Logam” yang mengungkapkan permasalahan yang terjadi di masyarakat pada saat Orde Baru berupa kritikan-kritikan terhadap pemerintah. Dalam cerpen ini pengarang menggambarkan sebuah kejadian yang terlihat jelas kekuasaan yang terjadi di masa itu. Kekuasaan seorang yang tetap kukuh mempertahankan eksistensi pabrik jeansnya walaupun sudah dikecam masyarakat desa karena limbahnya yang mematikan, dan sikap Pak Lurah (pemerintah) yang seolah-olah kekuasaan ditutupi, terkesan melindungi kehegemonian yang dilakukan oleh pemilik pabrik.
            Sama seperti Indro Tranggono, Ugoran Prasad dalam cerpennya “RIPIN” juga menggunakan kritik terhadap kekuasaan pemerintah. Bedanya, jika Indro menggunakan kekuasaan oknum yang ditutupi oleh pemerintan, maka Ugoran menggunakan Petrus (penembak misterius) yang ada di masa Orde Baru untuk mengkritik pemerintah.

Penafsiran Perbandingan
Tahap akhir kegiatan perbandingan adalah penafsiran hasil perbandingan. Pada tahap ini yaitu menjawab mengapa pada kedua cerpen terjadi kemiripan. Penafsiran terhadap hasil bandingan itu harus berdasarkan data-data yang menunjukkan sebab-sebab mengapa terjadi kemiripan. Oleh karena itu, sebelum menafsirkan hasil perbandingan dalam pembahasan ini, perlu diuraikan data dan pertimbangan untuk menentukan kedudukan dari kedua karya tersebut. 1) Bahwa kekuasaan pada masa Orde Baru sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat pada masa itu, banyak masyarakat yang merasa tertindas karena kekuasaan tersebut. 2) Bahwa kondisi masyarakat yang menyangkut pemerintahan pada masa Orde Baru yang sama-sama dijadikan ide cerita untuk menuangkan kritikan mereka terhadap pemerintah.

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut kedua pengarang sama-sama menggunakan kekuasaan atau hegemoni dalam karyanya. Pengarang merefleksikan kekerasan pemerintah Orde Baru untuk kepentingan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA
Faruk, 2010. Pengantar Sosiologi Sastra (edisi revisi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Prasad, Ugoran. 2011. “RIPIN”. (Online) http://belajardaricerpenpilihan.blogspot.com/2011/12/ripin.html (diakses 20 Oktober 2013).

Rasmian, 2012. “Kekerasan  dalam Cerpen “RIPIN”,  Kumpulan Cerpen KOMPAS 2005-2006”. (Online) http://www.rasmianmenulis.com/2012/03/analisis-cerpen-ripin.html (diakses 24 Oktober 2013)

Tranggono, Indro. 2005. “Gerimis Logam”. (Online)  http://cerpenkompas.wordpress.com/2005/03/27/gerimis-logam/#more-231 (diakses 20 Oktober 2013).

Minggu, 20 Oktober 2013

CERPEN KONTEMPORER KARYA DANARTO 
KACAPIRING            

             Rumah sakit ini rasanya menebarkan arus kematian. Terasa pada tengkuk dan telapak tangan yang dingin. Lorong-lorong yang lengang mengantarkan kereta jenazah yang bergulir sendirian. Bau obat pengepel lantai menelan aroma nasi bungkus dan air minum kemasan yang kempis. Barangkali di ranjang sebelah seorang pasien sedang bergulat memperebutkan nyawanya dengan Malaikat Izrail.
             Azan subuh terdengar, saya masih malas bangun dari tidur duduk dengan kepala terkulai di ranjang Asri, anak saya yang berumur 12 tahun. Asri telah 3 hari pingsan, belum juga ada tanda-tanda mau siuman. Para dokter tidak tahu kenapa lama sekali Asri pingsan.
            Sebenarnya, anak-anak saya, yang sehat, energik, dan periang, yang mewarisi watak saya yang selalu gembira, mustahil jatuh pingsan sebegitu mudahnya. Dunia memang penuh penderitaan, tetapi lupakanlah itu dan rebutlah kegembiraan hidup untuk selama-lamanya. Itulah yang pokok, yang saya pikir, yang saya ajarkan kepada anak-anak dalam mengarungi hidup sehari-hari. Saya ajak mereka menyanyi, menari, dan berdoa dan kelima anak saya itu – Asri (12), Ajeng (10), Antok (8), Arga (6), dan Ayu (4) – pun menari, menyanyi dan berdoa. Anak-anak yang baik adalah jendela dengan kaca yang jernih. Kami adalah keluarga yang tidak bersedih. Jika mau bersedih pun kami tidak sempat.            
             Kami bertujuh hidup dalam kebahagiaan dalam arti yang sempit maupun yang luas. Selalu bertemu setiap hari, dalam waktu yang sempit maupun yang longgar. Kami berbelanja beramai-ramai ke Hero atau Carrefour. Kami makan di Sizzler atau di Lembur Kuring. Kami sekeluarga yang sibuk sehingga membutuhkan tiga sopir, paling tidak satu untuk anak-anak, satu untuk istri dan satu untuk saya, sepertinya setiap dari kami sudah bisa mandiri.
            Seminggu sekali kami mengitri toko buku selama tiga jam untuk memborong buku dan DVD apa saja yang mendatangkan kesenangan. Kami juga nonton di gedung bioskop dan gedung kesenian, juga di gedung-gedung kebudayaan kedutaan besar. Kami mengisi teka-teki silang dari Harian Kompas, Koran tempo, Media Indonesia, maupun Republika, sambil menikmati pizza atau hamburger dan es teler. Kami juga pura-pura tahu tentang gerakan reformasi yang telah melanda Tanah Air.
            Itulah sebabnya kami merasa digoncang gempa bumi ketika mobil kami ngebut melarikan Asri ke rumah sakit. Menderu dan melakukan zig-zag. Masih dalam keadaan pingsan, Asri saya peluk erat-erat. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan Asri yang menjerit dan jus mentimun yang mestinya ia berikan kepada mamanya jatuh ke lantai dengan bunyi gelas yang pecah berderai. Saya berlari ke arah jeritan Asri dan mendapatkannya terkapar. Saya berteriak memanggil sopir dan membopong Asri ke dalam mobil. Di sisinya, Ajeng dan Antok, adik-adik Asri, gemetar dan menangis memegangi kaki dan tangan kakaknya. Apakah Asri tadi terpeleset atau dia kena serangan jatung? Yang saya heran, ibunya anak-anak tidak memberikan reaksi sedikit pun dan tetap berada di dalam kamarnya. Bahkan sekedar menjenguk pun tidak.
            “Karena kaget, siapa pun bisa pingsan,” kata dokter setelah memeriksa Asri beberapa saat. Kami lega.
             “Sehat,” jawab dokter, “Nantikalau sudah siuman, Asri bisa dibawa pulang.”
             Saya mengucapakan terima kasih kepada dokter yang kemudian berlalu meninggalkan Asri yang tergeletak di ranjang. Saya masih memegangi tangan Asri dan menatap bengong Ajeng dan Antok. Mereka tampak cemas ketika tiba-tiba telepon seluler berdering.
             “Arga dan Ayu nangis memanggil-memanggil Ibu, Pak!” teriak pembantu dari rumah sambil menangis.
            Saya kaget lalu berteriak, “Bilang sama Arga dan Ayu jangan kolokan. Bawa keduanya ke mamanya.”
            “Pintu kamar Ibu digedor-gedor Arga dan Ayu, tetapi enggak ada sahutan, Pak,” kata pembantu.
            “Dobrak pintunya.” 
            “Enggak berani, Pak.”
            “Dobrak!”
            “Enggak berani, Pak.”
            “Suruh Totok mendobrak.”
            “Totok enggak berani, Pak.”
            “Mana Totok, saya mau bicara.”
            “Ya, Pak,” sahut Totok sopir anak-anak, yang agaknya berada di samping pembantu.
            “Tok! Kamu dobrak pintu kamar Ibu.”
            “Mohon maaf, Pak. Saya tidak berani.” 

            Mula-mula Laksmi, mamanya anak-anak, memberi tahu kami bahwa dia membutuhkan kamar sendiri. Saya pikir dia mau menggunakan kamar yang sudah ada. Ternyata dia membangun kamar baru di sebelah perpustakaan. Bagi kami, saya dan anak-anak, hal ini tidak menjadi soal amat. Kami semua sangat mencintainya. Bahkan anak-anak sanggup menunggunya sampai pukul 9 malam untuk bisa makan bareng dengan mamanya.
           Sebagai seorang ibu yang perfeksionis bagi anak-anaknya, dia mengatur seluruh segi kehidupan kami sehari-hari, begitu cermat dan cekatan. Dari jus apel, tomat dan wortel yang wajib kami minum setiap hari, dari hobi sampai jenis permainan dan dari olahraga sampai piknik kami setiap empat bulan sekali, anak-anak dan saya terima beres. Dari sini dia mendapat imbalan yang elok dari langit: anak-anak dan suaminya tumbuh sehat dan mendatangkan kebahagiaan.
            Dengan kamar barunya itu, Laksmi keluar masuk dengan kunci di tangan. Tentang sikapnya ini, saya pernah secara sambil lalu bertanya kepadanya, “Ada rahasia apa, kok pakai dikunci segala.” Dia hanya tersenyum. Ia tetap ramah dan murah senyum sambil menyanyi dan menari, tetapi kami, keluarga dekat dan teman-temannya, tetap tak boleh menjenguk kamarnya. Pernah Ayu yang berumur 4 tahun, bungsu kami, menangis sejadi-jadinya karena mau ikut, tetapi tetap tak diizinkan masuk. Laksmi tak peduli Ayu menangis seharian di depan pintu kamarnya. Dari peristiwa ini saya mulai merasakan Laksmi ingin mengucilkan diri.
            Laksmi, yang kutu buku dan mengenal dengan baik seluruh restoran di Jakarta, jauh lebih keras bekerja daripada saya meski saya sering pulang larut malam. Tidak pernah mengeluh. Selalu tersenyum terlebih dulu, ia bahkan lebih cepat tersenyum ketimbang para tetangganya yang sudah terkenal paling ramah. Kesukaannya memasak dan membagikannya kepada satu dua tetangganya meski hanya beberapa potong lumpia, dicatat sebagai sifat keramahtamahannya. Ketika membangun kamar pribadinya itu usianya tiga puluh tahun dan sedang ayu-ayunya.
            Di kamar Asri sekarang berkumpul separuh keluarga. Air mata saya terus berlelehan. Ajeng dan Antok menangis sambil memeluk kaki Asri yang terkulai seperti mati. Beberapa dokter hilir-mudik memeriksa Asri lagi. Mereka berdiskusi secara bisik-bisik dan tidak memberi keterangan apa-apa kepada saya. Karena tak tahan menunggu saya bertanya kepada dokter pertama yang memeriksa Asri.tetapi dokter itu memberi isyarat supaya saya bersabar.
            Seorang dokter lain menyarankan supaya saya memeriksa kamar-kamar di rumah. Lalu saya menelepon Eyang Putri Niniek, neneknya anak-anak, ibu Laksmi, yang sering meluangkan waktu bermain dengan cucu-cucunya.
           “Sebelum ke rumah sakit, Ibu mampir dan mohon periksa seluruh kamar dan pojok rumah,” desak saya.
           “Istrimu ke mana?” tanya Eyang Niniek.
           “Itulah...”
           “Itulah apa?”
           “Tidak tahu ke mana.”
           “Kamu bertengkar dengannya?”
           “Tidak.”
           “Ayolah, kamu bertengkar.”
           “Sungguh tidak, Bu.”
           Akhirnya Ajeng dan Antok tertidur di tepi-tepi ranjang Asri. Saya merenung tentang hal-hal kecil yang mungkin sekali terlewatkan dalam urusan rumah tangga. Beberapa orang keluarga dan teman sekelas Asri di SLTP berdatangan menjenguk. Kami mengobrol di kamar keluarga di sebelah kamar perawatan Asri. Teman-temannya menciumi kening dan pipi Asri yang pingsan pulas. Mereka menanyakan mamanya anak-anak. Saya jawab Laksmi sedang bepergian keluar kota yang tak bisa dihubungi.
           Telepon genggan berciluit. Rupanya dari Eyang Niniek yang lalu nerocos.
           “Laksmi bilang belum bisa menjenguk ke rumah sakit. Dia tak mau membuka pintu kamarnya.”
           “Cobalah Ibu minta dia menelepon saya.”
           “Sudah saya suruh, tetapi dia tidak mau.”
           “Dia omong apa saja?”
           “Dia tak omong apa-apa.”
           “Ibu merahasiakan omongan dia, ya?”
           “Buat apa?”
           “Jadi Ibu Cuma mendengar suaranya dari dalam kamarnya?”
           “Ya.”
           “Aneh.”
           “Apa?”
           “Aneh, Laksmi tidak mau ketemu Ibu.”
           “Apa kamu memarahinya?”
           “Tidak pernah.”
           “Ada apa sebenarnya?”
           “Saya tidak tahu.”
           “Kamu suaminya kok enggak tahu.”
           “Benar, Bu.”
           Seorang dokter masuk memeriksa Asri. Tiba-tiba Asri bangun berteriak, “Mama!” lalu dia terkulai kembali, diam, pingsan lagi.
           Melihat gejala itu kemudian beberapa dokter dan juru rawat berdatangan. Asri lalu diperiksa oleh tiga orang dokter. Lalu para dokter itu memberi tahu bahwa tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan.
           Akhirnya Asri siuman dalam keadaan sehat-walafiat. Seorang kiai dan beberapa orang jamaahnya yang mengaji sepanjang malam di sisi tempat tidur Asri berhasil membangunkannya. Subuh itu Asri terduduk kaget dan berteriak-teriak memanggil ibunya, “Mama! Mama!” lalu turun dari tempat tidur menghambur ke pelukan saya sambil menangis sejadi-jadinya.
           Lalu kami meninggalkan rumah sakit beramai-ramai seperti mau menyambut pesta. Kami tidak pulang ke rumah. Kami pulang ke rumah Eyang Niniek. Kami menyelenggarakan selamatan untuk Asri. Mirip reuni keluarga, saudara-saudara dekat dan jauh berdatangan. Juga teman-teman Asri di sekolah. Selamatan berlangsung dalam doa yang dipimpin oleh kiai dari kelompok pengajian kami. Malam yang khusyuk. Malam yang berbeda. Malam yang menjadikan kami memperoleh keyakinan kembali. Sampan yang menjauh ke tengah danau telah kembali merapat ke tepi. Angin malam yang berembus pelan mengusir malam yang panas dan menyuruh dapur menghidangkan makanan yang lezat-lezat.
           Tak terduga, anak-anak senang tinggal di rumah neneknya. Begitu pula Eyang Niniek yang setelah ditinggal lima tahun oleh Eyang Sadewa, suaminya, merasa mendapatkan hidupnya kembali dengan kehadiran cucu-cucunya di rumah. Tentu ada yang hilang. Laksmi tidak kelihatan. Dia tidak ditemui di rumah atau di rumah teman-temannya. Saudara-saudara kami di Bandung, Yogya, Solo dan Surabaya, juga tidak disinggahi Laksmi selama dua tiga bulan belakangan ini. Saya katakan kepada anak-anak kenapa kami belum dapat menemui mamanya: Laksmi sedang sibuk menggarap pekerjaan yang harus selesai tepat waktu karena ditunggu pemesannya. Untung Ayu, si bungsu, tidak meronta-ronta.
           Pada suatu malam yang cerah penuh bintang dan Asri sudah ceria, di taman belakang rumah Eyang, di tepi kolam ikan koi, diam-diam saya desak dia bercerita tentang peristiwa sore itu ketika terjatuh sewaktu mengantarkan jus mentimun untuk mamanya. Asri mengingat sejenak lalu bercerita.
           “Ada kereta api lewat, kencang sekali, berderak-derak, angin menderu, Mama dari atas kereta menyambar gelas jus itu, meminumnya lalu melemparkan gelasnya. Asri terhempas terguling ke samping, lalu mendengar teriakan Mama yang semakin menjauh, ‘Mama cuma beli tiket sekali jalan.’”
           Seperti tersadarkan, mendengar cerita Asri ini saya tersentak dari duduk, menggayut tangan Asri dan mengajaknya buru-buru menengok rumah.
           Ajeng, Antok, Arga, Ayu dan Eyang Niniek saya bawa serta. Sopir saya perintahkan ngebut. Saya mendengar suara Laksmi yang menjauh.
           “Mama Cuma beli tiket sekali jalan.”
           Bisakah saya mengejar suara itu. Melayang sobekan kain dari hempasan angin kereta api, menderu menyibak tanaman, geliat rel pada tikungan, dengan peluitnya yang panjang, karena itu lenyap ditelan cakrawala.
           Sesampai di rumah, para pembantu kaget menyambut kami. Saya dobrak pintu kamar Laksmi dengan linggis. Kami beramai-ramai memasukinya. Ternyata kamar itu kosong-melompong. Tak ada sepotong pun perabotan. Hanya karpet yang memenuhi kamar dengan bau harum pewangi kegemarannya. Menyaksikan keadaan itu, anak-anak berteriak sambil menangis.
           “Mama! Mama!”
           Ayu berguling-guling di karpet sambil menjerit-jerit. Kakak-kakaknya menangis memanggil mamanya sambil menyusuri empat dinding kamar kosong itu. Saya tak peduli. Saya minta sopir untuk membongkar plafon, barangkali, begitu pikiran bodoh saya, kami bisa menemukan persembunyian Laksmi.
           Akhirnya anak-anak jatuh tertidur kelelahan. Mereka melingkar di tengah-tengahkamar yang sebenarnya tidak luas itu. Saya terduduk di pojok. Ada yang terputus dalam alur perjalanan rumah tangga kami. Sebuah jalan raya yang tiba-tiba lenyap dirakus hutan. Lalu tercipta jalan setapak, menyanyi Tuhan dengan gelang Saturnus, api tiba-tiba terhunus. Konser yang belum dimainkan oleh dirigen yang menunggu pesinden. Saya menatap tubuh anak-anak yang pulas, mereka seperti gundukan-gundukan pasir di Pantai Carita pada suatu hari yang cerah empat bulan yang lalu. 

           Saya minta sopir ngebut ke bilangan Senayan, di depan kompleks TVRI, untuk membeli bunga kacapiring kesukaan Laksmi. Saya memilih kembang-kembang itu sendiri. Pada pukul delapan sehabis makan malam, saya minta anak-anak menaruh bunga kacapiring itu di dalam vas kesukaan mamanya di tengah-tengah kamar. Lalu kami berkumpul di pojok kamar. Kami persis anak yatim piatu. Anak-anak ayam yang kehilangan induknya.
            Seorang pembantu masuk manaruhkan segelas jus mentimun kesukaan Laksmi di dekat vas bunga itu. Seketika saya terkesiap. Di dapur, pembantu itu saya suruh mengambil kembali jus mentimun itu dan saya membantingnya sampai gelas itu pecah berkeping-keping. Pembantu itu menangis sambil berlari masuk ke kamarnya.
            “Apa maksudmu menaruh jus mentimun itu di dalam kamar Ibu?” bentak saya.
            “Setiap hari jus mentimun dihidangkan di kamar Ibu, Pak,” jawab pembantu.
            “Kamu gila!” bentak saya.
            “Jus itu selalu habis diminum Ibu, Pak.”
            “Kenapa kamu baru cerita sekarang?”
            “Kira Bapak sudah tahu.”
            “Apa kamu pernah lihat Ibu minum jus itu, he?”
            “Ibu tidak ada tapi ada, Pak.”
            Pembantu itu menangis sambil menunduk. Para pembantu lainnya bersembunyi di kamarnya. Saya terduduk di lantai dapur. Barangkali yang gila itu saya. Air mata saya berlelehan. Laksmi tidak ada, tetapi ada. Ini sudah keterlaluan dan sangat jauh menyimpang dari pengalaman perjalanan karier saya. Iman yang begitu tinggi dari orang-orang sederhana seperti para pembantu dan para sopir memberi pelajaran betapa perjalanan hidup itu tidak lurus, bahkan perjalanan hidup orang-orang saleh sekalipun. Setiap perahu menyimpan gelombang. Setiap hasrat menyimpan nafsu, dendam dan tindakan yang tidak masuk akal. 
            “Apa Papa punya salah sama Mama?” tanya Asri pada suatu sore ketika kami minum teh berdua di beranda.
            “Kamu pikir, Papa punya salah sama Mama?”
            “Menurut Papa bagaimana?”
            “Menurut Asri bagaimana?”
            “Mana tahu...”
            “Cobalah berterus terang Asri, apa kata hatimu?”
            “Cobalah Papa mendengar kata hati Papa, bagaimana?”
            “Orang lain lebih tahu. Bagaimana menurut Asri?”
            “Papa malu, ya, berterus terang?”
            “Nah, kamu curiga. Nada bicaramu seolah Papa memang punya salah sama Mama.
            “Nah, Papa yang curiga.”
            “Kamu.”
            “Papa.”'
            “Kamu.”
            “Papa.”
            Apakah saya cukup waras untuk mengalami semua peristiwa yang tak terbayangkan ini? Saya yang ingin hidup secara sederhana, penuh kegembiraan, tidak begitu saja bisa mulus melaksanakannya meski syarat-syarat untuk itu semua terpenuhi. Saya merasa diperlakukan tidak adil. Saya harus mencari sebab-sebabnya.
            Malam-malam selanjutnya kami tidur di kamar semedi Laksmi itu. Di atas karpet, kami berbaring berderet-deret seperti pengungsi. Saya berbahagia karena anak-anak sudah mulai kerasan. Bunga kacapiring itu boleh jadi memberi oksigen kepada kami. Mungkin karena jasa Eyang Niniek yang begitu penuh kasih sayang mengasuh anak-anak. Memang, harus ada orang tua yang setia tinggal di rumah untuk mengayomi rumah tangga. Orang tua yang selalu mondar-mandir antara dapur dan ruang keluarga. Orang tua yang membersihkan udara di dalam rumah.

            Pada suatu malam ketika saya tiba dari kantor, terdengar dari dalam kamar Laksmi anak-anak tertawa dan bersorak-sorai ramai sekali.
            “Mama curang. Mama curang,” teriak anak-anak tertawa penuh canda.
            “Tentu saja Mama selalu menang, habis Mama enggak kelihatan, sih.”
            Saya intip ari pintu, anak-anak tertawa, berteriak, berlarian memutari kamar sambil menggenggam apel dan melemparkannya ke udara.
            Saya terkulai di depan pintu dengan berurai air mata. Ini gila. Saya tak bisa menerima ini semua. Ini keterlaluan. Saya harus merebut kembali kebahagiaan itu. Saya harus merebut kembali Laksmi.
            Ketika malam telah hening, ketika anak-anak sudah berada di dunia lain (barangkali), pelan saya masuk. Setelah salat istikharah, saya berdoa di pojok. Mencoba memusatkan pikiran. Kamar itu temaram, menunggu sesuatu yang baru dari kehidupan kami. Perjanjian baru perlu ditandatangani, dengan keyakinan penuh, dengan kedisiplinan, dengan kesetiaan.
            “Laksmi,” bisik saya. “Maafkan saya. Saya telah mengacaukan segalanya. Saya telah merusak rumah tangga kita. Ketika Asri bertanya, apakah saya punya salah padamu, saya sadar, inilah sumber dari segala yang mengerikan itu. Laksmi, saya minta maaf. Benar, saya bersalah kepadamu. Di depanmu ini, saya mengakui, saya berselingkuh. Berkali-kali. Secara sadar saya melakukannya. Itu kesalahan besar. Suatu dosa besar. Barangkali di kantor kami semua sudah gila. Kami dicengkeram oleh situasi yang sangat sulit untuk kami hindari. Kami terkepung tembok. Beban pekerjaan terlalu berat. Hiburan memang bermacam-macam bentuknya untuk memunggahkan semua beban itu. Saya tak mampu melakukan pilihan. Maafkan saya. Sekarang saya memohon dengan sangat kepadamu, maafkanlah saya. Kembalilah. Saya minta Laksmi kembali dalam keluarga. Kamu tahu, anak-anak sangat membutuhkanmu. Laksmi, mereka tidak mungkin bisa hidup tanpa kamu. Mereka sangat mungkin akan gagal dalam hidup tanpa kamu. Lebih-lebih saya. Dengan ini saya berjanji, juga sumpah, saya tak akan mengulangi perbuatan itu. Kasih kesempatan kepada saya. Laksmi. Kasih kesempatan. Saya paham sekali sekarang, tak ada wanita lain yang bisa saya cintai. Laksmi, engkaulah satu-satunya yang saya cintai sampai akhir zaman. Engkau suci, laksmi sedang saya profan.”