ANALISIS PERBANDINGAN HEGEMONI DALAM CERPEN “GERIMIS
LOGAM” KARYA INDRO TRANGGONO DAN “RIPIN”
KARYA UGORAN PRASAD
Abstrak
Artikel ini membahas
mengenai perbandingan cerita pendek (cerpen) “Gerimis Logam” karya Indro
Tranggono dan cerpen “RIPIN” karya Ugoran Prasad dengan menggunakan hegemoni.
Hegemoni adalah sebagai suatu dominasi kekuasaan
suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual
dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan. Kedua cerpen tersebut
menunjukkan isi cerita yang sama tentang kekuasaan atau hegemoni.
Kata Kunci: perbandingan, hegemoni, cerpen
PENDAHULUAN
Karya
satra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Karya satra itu bersifat dinamis
berjalan sesuai dengan perkembangan masyarakat karena karya sastra itu hasil
ciptaan seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam masyarakat
seorang individu menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami. Dari kejadian
yang ia alami yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan dasar ide dalam
penulisan karya sastra.
Dalam
perkembangan dunia sastra, sebagai upaya untuk melihat dan mungkin menentukan
gejala-gejala yang timbul di masyarakat, maka dapat ditempuh dengan adanya
cabang ilmu sastra perbandingan. Sastra perbandingan sebagai suatu disiplin
ilmu sastra yang baru saja berkembang, masih memerlukan perjalanan yang panjang
untuk mencapai kedudukan sebagai ilmu yang mantap. Perjalanan panjang itu masih
harus ditempuh karena sampai sekarang masih terdapat perbedaan pendapat di
antara para ahli menyikapi keberadaan sastra perbandingan. Keadaan yang
demikian ini sebenarnya sekaligus menunjukkan kedinamisan perkembangan sastra
perbandingan sebagai sebuah ilmu.
Sastra adalah seni kreatif
yang bermediakan tulisan, sedangkan Sosiologi adalah ilmu tentang
masyarakat/bermasyarakat. Hubungan antara keduanya adalah bahwa sastra dianggap
sebagai wujud manifestasi dari kehidupan masyarakat. Sastra “tidak hanya”
berbicara tentang masyarakat secara umum saja, kadang sastra mengandung
muatan-muatan ideologis yang bermaksud mendukung ataupun menentang
kekuasaan yang ada. Eksistensi sastra juga tidak hanya dipandang sebagai
lembaga sosial yang relatif otonom, namun mempunyai kemungkinan relatif
formatif terhadap masyarakat (Faruk, 2010:130)
Gramsci menyebutnya
dengan Hegemoni, Hegemoni menurut Gramsci adalah kepemimpinan moral dan
intelektual (Faruk, 2010:141). Termasuk didalam hegemoni adalah kemampuan
mengatur dan menguasai kelompok–kelompok lawannya. Dalam teori hegemoni
yang diungkapkan Gramsci, hegemoni diciptakan dari kekuatan material yang
disini adalah ideologi.
Berdasarkan penjabaran
diatas, penulis ingin membandingkan dua buah karya sastra dilihat dari segi hegemoni atau
kekuasaannya. Dua buah karya sastra tersebut adalah cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono dan “Ripin”
Karya Ugoran Prasad.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini karya sastra yang akan dibandingkan
yaitu cerpen “Gerimis Logam” Karya
Indro Tranggono dan “Ripin” Karya Ugoran Prasad. Cerpen karya Indro
Tranggono dimuat dalam harian
nasional “Kompas” dan juga diposting ke dalam sebuah blog yang memuat
cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan dalam harian tersebut, sedangkan karya Ugoran
Prasad dimuat dalam blog Belajar dari Cerpen Pilihan.
PENDEKATAN
Persoalan kultural dan
formasi ideologis menjadi penting bagi Gramsci karena didalamnya pun
berlangsung proses yang rumit. Gagasan dan opini tidak lahir begitu saja
melainkan punya pusat informasi, iridasi, penyebaran, dan persuasi. Puncak inilah
yang disebut Hegemoni. Secara literal hegemoni berarti “kepemimpinan”. Lebih
sering kata itu digunakan oleh para komentator politik untuk menunjuk
pengertian dominasi. Akan tetapi, bagi Gramsci, konsep hegemoni berarti sesuatu
yang lebih kompleks. Gramsci menggunakan konsep itu untuk meneliti bentuk
politik, kultural, dan ideologis tertentu, yang lewatnya, dalam suatu
masyarakat yang ada, suatu kelas fundamental dapat membangun
kepemimpinnanya sebagai sesuatu yang berbeda dari bentuk-bentuk dominasi yang
bersifat memaksa. (Faruk, 2010: 132)
Hegemoni diciptakan oleh
suprastruktur/kekuatan, material/ideologi. Hegemoni disini adalah untuk
memperkuat infrastruktur. Suprastruktur berkaitan dengan masalah kultural,
sedangkan infrastruktur berkaitan dengan struktur material. Subjek-subjek
yang mengisi struktur senantiasa diciptakan dan direproduksi sehingga
subjek-subjek yang terhegemoni semakin terjaga dan terpelihara.
Sebagai salah
satu situs hegemoni,
di dalam karya
sastra terdapat formasi
ideologi. Formasi adalah suatu
susunan dengan hubungan
yang bersifat bertentangan,
korelatif dan subordinatif.
Formasi ideologi tidak hanya membahas ideologi yang terdapat dalam teks, tetapi
juga membahas bagaimana
hubungan antara ideologi-ideologi tadi . Sementara ideologi itu sendiri adalah
sistem besar yang memberikan orientasi kepada manusia. Karena merupakan
sistem besar, ideologi
mempunyai pengikut. Ideologi
bersifat kolektif dan berada
di wilayah superstruktur
atau kesadaran dan
menjelma dalam praktik-praktik sosial setiap
orang, lembaga pemerintah,
institusi pendidikan, organisasi-organisasi, dan
lain-lain.
Agar dapat
mencapai hegemoni, ideologi
harus disebarkan. Menurut
Gramsci (Faruk, 2010:74), penyebaran itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui lembaga-lembaga sosial tertentu
yang menjadi pusatnya
seperti bentuk-bentuk sekolahan
dan pengajaran atau berbagai lembaga penerbitan.
Teori Hegemoni Karl Max
Karl
Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Ayahnya, seorang pengacara, menafkai
keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Ayahnya
adalah dari pendeta Yahudi (rabbi).Tetapi, karena alasan bisnis
ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda.Tahun
1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, universitas
yang sangat di pengaruhi oleh Hegel dan guru - guru muda penganut filsafat
Hegel. Gelar doktor Marx didapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi
kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian (Rasmian, 2012).
Dalam
artikel online Rasmian (2012), teori kekuasaan ala Karl Marx itu identik dengan
ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. Dalam
batasan-batasan lain, hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan
dibaca sebagai kapitalisme. Negara diperlakukan Marx sebagai institusi
sosial yang mengabdi pada kepentingan sistem ekonomi kapitalistik. Sebagai
produk kapitalistik, Negara merupakan alat kelas atas untuk menjamin
kedudukannya dan untuk itu dilakukanlah seperlunya penindasan kepada kelas
bawah.
Senada
dengan hal di atas, Subono dalam Rasmian (2012) mengemukakan bahw teori
kekuasaan Karl Marx melihat konsep kekuasaan dalam kerangka hubungan yang
mutlak antara kelas-kelas yang mendominasi dan yang didominasi dalam
masyarakat—antara yang menekan (oppressor) dan yang tertekan (oppressed),
antara yang menyisihkan (alienating) dan yang tersisihkan (alienated).
Kekuasaan, menurut versi Marxisme adalah kekuasaan yang dibutuhkan oleh kelas
sosial (kelas penguasa) untuk mereproduksi model produksinya yang dominan
kekuasaan untuk mengeksploitasi kelas yang dikuasai.
Batasan
di atas memilah hubungan dua kelas di tengah masyarakat, yakni kelas penguasa
yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang
dominan. Dalam teks lain, kekuasaan itu disebut juga sebagai ideologi Karl Marx
(1818-1883). Sedangkan menurut Haris Supratno dalam Rasmian (2012) menjelaskan
konsep Karl Marx sebagai berikut:
a) Memandang
negara sebagai alat represif bagi kelompok penguasa,
b) Kekerasan
satu-satunya cara mempertahankan dominasi kekuatan ,
c) Ekonomi
adalah alat pembelaan dan konflik dalam masyarakat.
Teori Hegemoni Gramsci
Menurut
Saptono dalam Rasmian teori
hegemoni merupakan sebuah teori politik paling penting
abad XX. Teori ini dikemukakan oleh Antonio Gramci
(1891-1937). Antonio Gramci dapat dipandang sebagai pemikir
politik terpenting setelah Marx. Gagasanya yang
cemerlang tentang hegemoni, yang banyak dipengeruhi oleh filsafat hukum Hegel,
dianggap merupakan landasan paradigma alternatif terhadap teori Marxis
tradisional mengenai paradigma base-superstructure
(basis-suprastruktur). Teori teorinya muncul sebagai kritik dan
alternatif bagi pendekatan dan teori
perubahan sosial sebelumnya yang didominasi oleh determinisme
kelas dan ekonomi Marxisme tradisional.
Antonio Gramsci lahir di Ales, Italia, 22 Januari 1891, meninggal 27 April 1937 pada umur 46 tahun adalah filsuf Italia, penulis, dan teori tikus politik. Anggota pendiri dan pernah menjadi
pemimpin Partai Komunis Italia, Gramsci sempat menjalani pemenjaraan pada masa
berkuasanya rezim Fasis Benito Mussolini. Tulisan-tulisannya
menitikberatkan pada analisa budaya dan kepemimpinan politik. Ia dianggap
sebagai salah satu pemikir orisinal utama dalam tradisi pemikiran Marxis. Ia juga dikenal sebagai penemu
konsep hegemoni budaya sebagai cara untuk menjaga
keberlangsungan negara dalam sebuah masyarakat kapitalisme (Rasmian,
2012).
Menurut
pendapat Rasmian (2012), Gramsci dipandang banyak pihak sebagai pemikir Marxis
paling penting di abad ke-20, khususnya sebagai pemikir kunci dalam perkembangan Marxisme Barat.Ia menulis lebih dari 30 buku
catatan dan 3000 halaman sejarah dan analisa selama di penjara. Tulisan-tulisan
ini, yang kemudian dikenal luas sebagai Buku Catatan Penjara (Prison Notebooks), berisi penelusuran Gramsci
terhadap sejarah dan nasionalisme Italia, selain pemikiran mengenai teori
Marxis, teori kritis dan teori pendidikan yang berkaitan dengan dirinya,
seperti:
a)
Hegemoni Budaya sebagai cara untuk menjaga
keberlangsungan negara kapitalis
b)
Pentingnya pendidikan buruh populer untuk mendorong
perkembangan intelektual dari kelas pekerja
c) Pemisahan antara masyarakat politis (polisi, tentara,
sistem legal, dsb) yang mendominasi secara langsung dan koersif, dan masyarakat sipil (keluarga, sistem
pendidikan, serikat perdagangan, dsb) di mana kepemimpinan
dikonstitusionalisasi melalui ideologi.
Pemikiran
Gramsci tentang hegemoni didasarkan atas asumsi bahwa supremasi suatu kelompok
social menyatakan dirinya dalam dua cara, yaitu sebagai ‘dominasi’ dan sebagai
‘kepemimpinan moral’, intelektual”. Suatu kelompok atau pemerintah
menjadi dominan apabila menjalankan kekuasaan, tetapi bahkan jika ia sudah
memegang dominasi itu, ia harus meneruskan kepemimpinannya. Kepemimpinan moral
merupakan kepemimpinan yang dicapai lewat persetujuan yang aktif
kelompok-kelompok utama dalam suatu masyarakat.
Sedangakan menurut Haris Supratno dalam Rasmian (2012) menjelaskan konsep
Hegemoni Gramsci sebagai berikut:
a)
Hegemoni merupakan alat represif
b)
Mengabdi kepada kelompok masyarakat
c)
Kepemimpinan moral
d) Meminimkan
resistensi penanaman ideologi
e)
Meninggalkan kekerasan
f)
Ekomoni sebagai alat mempertahankan hegemoni.
SINOPSIS
Sinopsis Cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono
Pada suatu sore yang hujan, Jajak
menuntut kepada pihak pabrik atau pimpinan pabrik agar pabrik jeans segera
ditutup karena banyak warga yang telah meninggal karena sumur dan sawah warga
tercemah limbah pabrik tersebut. Akan tetapi, pimpinan pabrik tetap tidak mau
menutup pabriknya dikarenakan sudah mendapat izin dari pemerintah.
Jajak merasa kasihan kepada warga
yang meninggal karena limbah pabrik, dia melihat seolah-olah mereka yang
meninggal berjalan di balik gumpalan awan dan memegang perut mereka yang
meletus serta darahnya yang biru menghitam. Jajak merasakan penderitaan mereka saat
memandangi langit-langit kamar rumah sakit.
Dalam pidato pak lurah, terlihat
bagaimana pak lurah menutupi kesalahan pabrik jeans tersebut dan berbicara
bahwa warga yang meninggal itu bukan karena limbah pabrik melainkan karena
penyakit perut atau disentri. Setelah pemakanan warga yang meninggal selesai,
Jajak diculik oleh si Gempal. Maksud si Gempal menculik Jajak adalah meminta
jajak untuk menghentikan demonstrasi itu dan Jajak disuap oleh si Gempal dan si
Botak, tapi Jajak menolak untuk itu dan akhirnya Jajak dipukul dan dihajar oleh
Gempal dan teman-temannya.
Sinopsis Cerpen “Ripin” Karya Ugoran Prasad
Siang
itu ripin sedang bermain kelereng dengan kawan-kawannya. Ketika kawan-kawannya
berhamburan ke jalan raya, Ripin susah payah menghitung kelereng yang dia
menangkan. Setelah selesai menghitung, cepat-cepat ia masukkan
kelereng-kelereng tersebut ke dalam saku celananya dan menyusul kawan-kawannya.
Sebuah
mobil pick up yang sedang berjalan menarik perhatian kawan-kawan Ripin, dan
Ripin terkejut melihat sosok orang yang mirip dengan Rhoma Irama. Tiba-tiba
seluruh kawanan itu mengejar mobil itu sambil berteriak-teriak. Ripin berlarian
agak jauh di belakang, ia berencana mengikuti kemanapun kawan-kawannya berlari
tapi pengumuman yang didengarnya dari pengeras suara itu membuatnya berhenti.
Ripin mendengar pengumuman pasar malam, tong setan, dan rumah hantu, nanti
malam di alun-alun. Ripin berbalik arah dan pulang ke rumah.
Ripin
meminta Mak agar dapat pergi ke pasar malam, karena Ripin ingin melihat tong
edan, tetapi Mak tidak menyetujuinya. Ripin merajuk, dan membujuk Mak dengan
mengatakan kalau Rhoma Irama akan datang. Rhoma Irama adalah penyanyi yang
disukai Mak Ripin. Mak masih tetap tidak mau. Akhirnya Ripin mengeluarkan
senjatanya dengan membandingkan kegantengan Rhoma Irama dengan bapaknya Dikin.
Ripin tahu kalu Mak senang dengan bapaknya Dikin. Mak memikirkan Bapak, Mak
takut.
Bapak
Ripin dulunya adalah jagoan yang paling hebat, sekarang sudah ada jagoan yang
lebih hebat dari bapak. Kata orang-orang, jagoannya seperti setan. Bapaknya
Dikin salah satu korbannya, mayatnya ditemukan mengambang di kali. Semenjak
jagoan berkeliaran, Bapak lebih sering pulang dan lebih sering menghajar Mak.
Ripin juga mendapat kekerasan oleh Bapaknya. Ripin dipukul dengan rotan karena
terlihat mematung menahan kencing saat belajar mengaji dengan Bapak.
Mak
menyelamatkan Ripin dari siksa Bapak, dan Makpun juga mendapat sabetan rotan
dari Bapak. Setelah itu Mak memutuskan untuk meninggalkan Bapak dan mengemasi
semua baju dan dimasukkan ke dalam tas besar. Mak menggandeng tangan Ripin dan
berjalan dengan langkah cepat, tiba-tiba Mak berhenti ingat kalau Mak tidak
membawa uang. Akhirnya Mak menyuruh Ripin menunggu sedangkan Mak kembali ke
rumah. Ripin memutuskan menyusul Mak, di depan pintu rumah ia mendapati Bapak
menjambak rambut Mak dan menghantamkannya ke dinding.
Setelah
neberapa tahun kemudian, satu kenyataan yang luput dimengertinya adalah bahwa
malam itu Mak sudah mati, dan kenyataan lain yang tidak diketahui; beberapa
hari setelah kematian Mak, mayat Bapak mengambang di kali, ditembak jagoan
seram yang bernama Petrus.
ANALISIS CERPEN
Hegemoni dalam Cerpen “Gerimis Logam” Karya Indro Tranggono
Cerpen Gerimis Logam
karya Indro Tranggono merupakan cerpen yang mengkritik tentang pemerintah pada
saat pemerintahan Soeharto. Dalam cerpen “Gerimis Logam” terdapat hegemoni atau kekuasaan yang terlihat pada bagaimana
pemilik pabrik berusaha mempertahankan kekuasaannya di desa itu,
menggunakan perangkat desa sebagai tameng kekuasaannya, mengatasnamakan
nasib ribuan pekerja sebagai ideologi untuk melawan kelompok kontra-hegemoni
yang mencoba menentang hegmoni.
Dalam cerpen Gerimis Logam terdapat formasi ideologi yang membentuk
terjadinya sebuah tatanan masyarakat yang hegemonik, dalam cerpen Gerimis
Logam ini terdapat ideologi-ideologi seperti kapitalisme, humanisme,
sosialisme, vandalisme, anarkisme, militerisme, dan otoritarianisme.
Ideologi kapitalisme dalam cerpen ini
direpresentasikan melalui tokoh laki-laki botak yang merupakan pemilik dari
pabrik jeans dan juga bos lelaki bertubuh gempal, ideologi kapitalisme
ini terlihat pada bagaimana dia tetap kukuh mempertahankan eksistensi pabrik
jeansnya walaupun sudah dikecam masyarakat desa karena limbahnya yang
mematikan. Hal tersebut menggambarkan bagaimana bos pabrik jeans tidak mau
rugi, karena dengan menutup pabrik sama saja modal yang digunakan untuk
pembangunan dan alat-alat produksi akan sia-sia, sedangkan Tokoh Pak
Lurah sendiri sepertinya terkesan melindungi kehegemonian yang
dilakukan pemilik pabrik, terlihat pada saat pidato sebelum pemakaman kang marno
yang meninggal:
“Selaku daripada lurah, saya harapken daripada
sodara-sodara sekalian jangan salah paham. Meninggalnya daripada Bapak Engkos
ini bukan karena daripada limbah pabrik itu. Bukan. Tapi, karena e..e… daripada
penyakit perut… Ya…ya disentri….”
Disitu
terlihat bagaimana seorang lurah yang aparat desa, yang seharusnya bisa menjadi
figur pemimpin yang tegas, malah terkesan menutup-nutupi atau bahkan melindungi
pabrik jeans tersebut, hal ini nampaknya menyindir perilaku
pejabat-pejabat di tanah air kita dewasa ini yang lebih mementingkan
kaum-kaum kapitalis. Memang Tidak bisa dipungkiri, kita boleh
pura-pura tidak melihat atau mendengar namun kenyataannya seperti sudah menjadi
rahasia umum jika “sedikit banyak” kapitalis-kapitalis yang mempunyai “pelindung”
pejabat-pejabat. Ideologi kapitalis ini juga dapat dilihat dalam kutipan
berikut:
“Perlu daripada sodara-sodara ketahui, soal limbah pabrik itu
sudah kami bicaraken guna mencari daripada penyelesaiannya. Kami mengharapken
daripada sodara-sodara sedikit sabar. Semoga, dalam lima anem hari nanti sudah
ada kabar….”
Pak
Lurah dan laki-laki Botak dalam cerpen tersebut termasuk dalam hegemoni Karl
Max karena identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah
masyarakat. Dalam batasan-batasan lain, hubungan itu dibingkai dalam konteks
sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme.
Hegemoni dalam Cerpen “RIPIN” Karya Ugoran Prasad
Cerpen
“RIPIN” ini juga mengkritik pemerintah sama halnya dengan cerpen “Gerimis
Logam”. Dalam cerpen tersebut istilah Petrus merupakan kepanjangan dari
Penembakan Mesterius. Istilah ini muncul sekitar tahun 1980-an yang
merujuk pada konsep penembakan yang pelakunya tidak diketahui. Peristiwa ini
sempat menghebohkan masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional.
Penembakan
misterius atau sering disingkat Petrus (operasi clurit) adalah suatu operasi
rahasia dari Pemerintahan Suharto pada
tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada
saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan
terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman
masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak
pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus", penembak
misterius.
Petrus
merupakan salah satu contoh konsep hegemoni sebagaimana dikemukan oleh Karl Max
dan Antoniai Gramsci. Menurut Gramsci, kekuasaan yang langgeng memerlukan
sistim kerja berupa tindakan kekerasan yang bersifat memaksa dan bersifat
lunak, membujuk (Rasmian, 2012). Dalam cerpen Ripin peristiwa Petrus tergambar dalam
kutipan berikut:
“Itu
dulu, waktu Bapak masih jagoan yang paling hebat.Sekarang sudah ada jagoan yang
lebih hebat dari Bapak.Kata orang-orang, jagoan ini seperti setan. Tidak ada
yang tahu siapa orangnya, dimana rumahnya, seperti apa tampangnya. Bapaknya
Dikin salah satu korbannya.Suatu pagi ditemukan mayatnya mengambang di kali,
luka tembak dua kali, di dada dan di dahi.Jagoan-jagoan setempat banyak yang
sudah duluan mati. Dari namanya, Ripin menduga jagoan ini pastilah orang
Kresten”
Berdasarkan
kutipan di atas tergambar kekerasan yang dilakukan olehn seseorang kepada tokoh
Bapak. Tokoh Bapak dalam kutipan tersebut dapat dimaknai sebagai wakil dari
masyarakat. Sedangkan tokoh jagoan yang digambarkan dalam cerpen
tersebut dapat ditafsirkan sebagai penembak misterius. Tafsir
ini dapat lebih terlihat pada kutipan berikutnya bahwa kata jagoan
merujuk pada kata petrus.
Diperoleh
informasi pula bahwa kekerasan yang dilakukan oleh jagoan dalam kutipan di
atas telah membawa korban lebih dari satu. Parakorban
biasanya ditembak dan mayatnya diletakan di sungai.
“Semenjak
jagoan setan ini berkeliaran, Bapak sering pulang.Bahkan bisa berhari-hari
tidak keluar rumah.Mak dan Ripin jadi tidak bisa lihat tontonan dan Bapak jadi
lebih sering menghajar Mak. Semenjak itu pula Bapak memutuskan untuk mengajar
Ripin mengaji….”
Berdasarkan
dua kutipan di atas dapat ditafsirkan bahwa dalam cerpen Ripin tergambar
kekerasan pemerintah terhadap masyarakatnya, dan ideologi yang dominan
adalah ideologi kapitalis. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tokoh petrus dalam
kutipan di atas merefleksikan tokoh tentara dan polisi yang merupakan
alat Negara.
ANALISIS PERBANDINGAN
Identifikasi Titik Mirip
Kesamaan atau kemiripan kedua cerpen yang sudah dianalisis tidak
dilihat dari segi struktur, akan tetapi dilihat dari segi kekuasaan atau
hegemoni yang dispesifikkan pada ideologi yang digunakan dalam kekuasaan
tersebut. Kedua pengarang cerpen tersebut sama-sama menggunakan kekuasaan atau
hegemoni dalam menyampaikan. Dari segi cerita pengarang memiliki kesamaan yaitu
sama-sama membahas tentang permasalahan di masyarakat pada masa Orde Baru.
Perbandingan Titik Mirip
Indro
Tranggono mencoba menuangkan ide dalam sebuah cerpen “Gerimis Logam” yang
mengungkapkan permasalahan yang terjadi di masyarakat pada saat Orde Baru
berupa kritikan-kritikan terhadap pemerintah. Dalam cerpen ini pengarang
menggambarkan sebuah kejadian yang terlihat jelas kekuasaan yang terjadi di
masa itu. Kekuasaan seorang yang tetap kukuh mempertahankan eksistensi pabrik jeansnya walaupun sudah dikecam
masyarakat desa karena limbahnya yang mematikan, dan sikap Pak Lurah
(pemerintah) yang seolah-olah kekuasaan ditutupi, terkesan melindungi
kehegemonian yang dilakukan oleh pemilik pabrik.
Sama seperti Indro Tranggono, Ugoran
Prasad dalam cerpennya “RIPIN” juga menggunakan kritik terhadap kekuasaan
pemerintah. Bedanya, jika Indro menggunakan kekuasaan oknum yang ditutupi oleh
pemerintan, maka Ugoran menggunakan Petrus (penembak misterius) yang ada di
masa Orde Baru untuk mengkritik pemerintah.
Penafsiran Perbandingan
Tahap akhir kegiatan perbandingan adalah penafsiran hasil
perbandingan. Pada tahap ini yaitu menjawab mengapa pada kedua cerpen terjadi
kemiripan. Penafsiran terhadap hasil bandingan itu harus berdasarkan data-data
yang menunjukkan sebab-sebab mengapa terjadi kemiripan. Oleh karena itu,
sebelum menafsirkan hasil perbandingan dalam pembahasan ini, perlu diuraikan
data dan pertimbangan untuk menentukan kedudukan dari kedua karya tersebut. 1)
Bahwa kekuasaan pada masa Orde Baru sangat berpengaruh pada kehidupan
masyarakat pada masa itu, banyak masyarakat yang merasa tertindas karena
kekuasaan tersebut. 2) Bahwa kondisi masyarakat yang menyangkut pemerintahan
pada masa Orde Baru yang sama-sama dijadikan ide cerita untuk menuangkan
kritikan mereka terhadap pemerintah.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai
berikut kedua pengarang sama-sama menggunakan kekuasaan atau hegemoni dalam karyanya.
Pengarang merefleksikan kekerasan pemerintah Orde Baru untuk kepentingan
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
Faruk, 2010. Pengantar Sosiologi
Sastra (edisi revisi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Prasad, Ugoran. 2011. “RIPIN”. (Online)
http://belajardaricerpenpilihan.blogspot.com/2011/12/ripin.html (diakses 20 Oktober 2013).
Rasmian, 2012. “Kekerasan dalam
Cerpen “RIPIN”, Kumpulan Cerpen KOMPAS 2005-2006”. (Online) http://www.rasmianmenulis.com/2012/03/analisis-cerpen-ripin.html
(diakses 24 Oktober 2013)
Tranggono, Indro. 2005. “Gerimis
Logam”. (Online) http://cerpenkompas.wordpress.com/2005/03/27/gerimis-logam/#more-231 (diakses 20 Oktober 2013).